Suka menulis artikel, liputan, dan resensi? Kirim ke sini: spdiaz.t@gmail.com dan berbagi bersama puluhan Jurnalis Remaja lainnya. :]
Jumat, 15 Maret 2013
Media Sosial Bukan Arena "Perang"
"Lu punya kaca di rumah? Ngaca dong. Main rebut cowok orang aja. Sadar dirilah." Kalimat itu pernah ditemui di media sosial, atau yang sering kita sebut sosmed, seperti Facebook dan Twitter.
Sebenarnya media sosial memberi manfaat positif, yaitu membuat kita mudah menjalin hubungan dengan orang lain. Bermacam tulisan mulai dari berbagi keseharian, kutipan lagu, hingga kutipan memotivasi orang lain ada di sana. Namun, di balik kemudahan dan kebaikan itu ada pelajar yang menggunakan media sosial secara tidak bijaksana.
Salah satunya menggunakan sosmed sebagai arena "peperangan", mulai dari mengejek teman hingga bullying. Padahal keadaan itu enggak cuma membahayakan orang lain, tetapi juga merugikan diri sendiri. Orang yang menjadi korban kata-kata kita ada yang merasa cemas, minder, merasa terkucilkan, hingga stres. Betapa tertekannya jika kita ada di posisi korban.
S, siswa SMA di Muntilan, Jawa Tengah, pernah menjadi korban karena menulis di sosmed. "Ada salah paham. Aku update status lalu ada yang tersindir," tuturnya. Akibatnya, S dicaci-maki pihak yang tersindir. "Aku jadi waswas. Takut salah tulis lagi di sosmed," ujarnya.
Di sisi lain, ada remaja yang mudah tersindir lalu mengajak "perang", seperti G, siswi SMA di Purwokerto, Jawa Tengah. "Aku suka sosmed karena di situ kita bisa main kata-kata. Kita bisa menyudutkan dia (korban) sekaligus buat ajang pelampiasan emosi. Aku tahu itu salah," kata G.
Tentu saja si korban merasa tak nyaman. Apalagi "perang" kata itu jadi tontonan kawan-kawan mereka di Facebook, Twitter dan sebagainya. Tak hanya itu, orangtua yang membaca "kicauan" yang "menyeramkan" juga merasa tak nyaman.
Mulutmu harimaumu
Ibu Septina, orangtua salah seorang siswa SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan, Magelang, menyarankan agar kita bijak ketika menulis di dunia maya. "Ibarat ngomong, yang terlanjur tertulis dan tersebar enggak bisa ditarik lagi," katanya.
Benar juga ya, kadang-kadang yang tertulis itu luapan emosi sesaat, spontan. "Kata orang, 'mulutmu harimaumu'. Yang kita tulis mencerminkan siapa kita," ujarnya.
Sementara Sr Karina CB, pamong asrama putri SMA Pangudi Luhur Van Lith berpendapat, karena kita tak bertemu langsung dengan orang yang bersangkutan, seseorang bisa dengan mudah mengejek orang lain di sosmed.
Pamong yang berlatar belakang pendidikan bimbingan dan konseling itu menjelaskan, sebagai alat komunikasi, penggunaan sosmed untuk sarana ejek-mengejek jelas tak tapet. "Membuktikan kalau perkembangan psikologi remaj bersangkutan belum dewasa. Ia tak bisa menggunakan alat komunikasi tepat guna," lanjutnya.
Secara psikologis, Sr. Karina menyebut pelaku "berani melukai tapi takut dilukai". Ia takut diketahui identitasnya. Ciri-ciri pelaku biasanya diam, penakut, pemalu, dan pengecut.
Agar tak perang, ia menyarankan, jika diejek ataupun disindir di sosmed, biarkan saja. Pakailah prinsip emang gue pikirin dan tak usah dibalas.
Benar juga ya, jika telanjur "berperang", kamu bisa menyelesaikannya secara baik-baik. Cara itu ditempuh S. Ia mendatangi orang yang merasa tersindir. "Aku jelaskan tak ada maksud menyindir. Dia menerima penjelasanku. Hati kami berdua menjadi damai," kata S lega.
Sebagai sesama pengguna media sosial, kita harus ingat selalu ada batasan dalam berteman. Ada etika yang harus kita jaga. Pikirkan pila akibat dari tulisan karena dibaca banyak orang.
Jadi, teman-teman, gunakan media sosial sesuai fungsinya, yaitu untuk berhubungan dengan orang lain secara positif. Musnahkan "peperangan" karena damai itu menyenangkan.
(Tim Jurnalistik SMA Pangudi Luhur Van Lith)
Kompas MuDA Nomor 8 Tahun Keenam (Kompas, Jumat, 15 Maret 2013)
Sabtu, 29 September 2012
Poster
Poster sebagai media untuk mengajak banyak orang melakukan hal-hal tertentu, diharapkan menarik bagi penglihatan mata serta jelas dan lugas dalam kata-kata. Maka dari itu, dalam pembuatan poster, sebaiknya memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Tulisan/Font
Dalam pembuatan poster, font yang digunakan sebaiknya dekoratif (indah dan menarik), namun masih jelas terbaca, minimal dari jarak 30 cm. Ukuran font yang digunakan baiknya min. 24 pt, maksimalnya terserah si pembuat poster. Jika ingin menarik pemirsa dari jarak jauh, ukuran huruf terbesar pun sah-sah saja untuk digunakan.
2. Warna
Warna-warna panas/warna-warna yang mencolok mata sebaiknya digunakan dalam pembuatan poster sebaagai warna latar belakang agar mampu menarik perhatian pemirsa. Warna-warna itu adalah merah-oranye-kuning. Disarankan juga untuk memakai latar putih-tulisan hitam atau latar hitam-tulisan putih jika tidak ingin menggunakan warna-warna panas tersebut.
3. Gambar
Gambar yang diberikan dalam poster harus ikonik dan sesuai dengan isi poster. Misalnya, jika poster itu mengajak untuk menghemat air, tentu gambar yang cocok adalah gambar kran dengan tetes air. Begitu seterusnya.
4. Tata Letak
Kita terbiasa untuk membaca dari atas ke bawah, dari kiri ke kanan. Maka, usahakan agar poster itu tidak membingungkan pemirsa dengan menata letak bagian yang paling penting seperti judul acara/ajakan diletakan di bagian poster paling atas, baru selanjutnya penjelasan di bagian bawah.
Keempat hal itu menurut penulis adalah hal-hal yang perlu diperhatikan untuk membuat poster. Namun, Jurnalis Remaja tentu mempunyai pendapat yang berbeda-beda, untuk mebuat poster secara kreatif dan inovatif.
Kali ini, penulis ingin men-share-kan resensi buku "Mengamati Poster Propaganda Revolusi Mao Tse Tung" yang dipublikasikan oleh http://ulas-buku.blogspot.com/. Semoga bisa menjadi referensi dalam membuat poster yang menarik pemirsa.
Semangat selalu dalam berkarya, Jurnalis Remaja! Teruslah menulis!
Oh ya, hindari tawuran! Jika ada masalah, hadapi dengan #1lawan1
1. Tulisan/Font
Dalam pembuatan poster, font yang digunakan sebaiknya dekoratif (indah dan menarik), namun masih jelas terbaca, minimal dari jarak 30 cm. Ukuran font yang digunakan baiknya min. 24 pt, maksimalnya terserah si pembuat poster. Jika ingin menarik pemirsa dari jarak jauh, ukuran huruf terbesar pun sah-sah saja untuk digunakan.
2. Warna
Warna-warna panas/warna-warna yang mencolok mata sebaiknya digunakan dalam pembuatan poster sebaagai warna latar belakang agar mampu menarik perhatian pemirsa. Warna-warna itu adalah merah-oranye-kuning. Disarankan juga untuk memakai latar putih-tulisan hitam atau latar hitam-tulisan putih jika tidak ingin menggunakan warna-warna panas tersebut.
3. Gambar
Gambar yang diberikan dalam poster harus ikonik dan sesuai dengan isi poster. Misalnya, jika poster itu mengajak untuk menghemat air, tentu gambar yang cocok adalah gambar kran dengan tetes air. Begitu seterusnya.
4. Tata Letak
Kita terbiasa untuk membaca dari atas ke bawah, dari kiri ke kanan. Maka, usahakan agar poster itu tidak membingungkan pemirsa dengan menata letak bagian yang paling penting seperti judul acara/ajakan diletakan di bagian poster paling atas, baru selanjutnya penjelasan di bagian bawah.
Keempat hal itu menurut penulis adalah hal-hal yang perlu diperhatikan untuk membuat poster. Namun, Jurnalis Remaja tentu mempunyai pendapat yang berbeda-beda, untuk mebuat poster secara kreatif dan inovatif.
Kali ini, penulis ingin men-share-kan resensi buku "Mengamati Poster Propaganda Revolusi Mao Tse Tung" yang dipublikasikan oleh http://ulas-buku.blogspot.com/. Semoga bisa menjadi referensi dalam membuat poster yang menarik pemirsa.
Semangat selalu dalam berkarya, Jurnalis Remaja! Teruslah menulis!
Oh ya, hindari tawuran! Jika ada masalah, hadapi dengan #1lawan1
***
Mengamati Poster Propaganda Revolusi Mao Tse Tung
Judul: Chinese Propaganda Posters
Essay: Anchee Min, Duo Duo, dan Stefan R Landsberger
Penerbit: Taschen, Jerman, 2011
Halaman: 320 halaman
Harga; HK $ 128
Buku ini memang lebih memiliki banyak gambar ketimbang teks. Namun gambar yang termuat di dalam bukanlah gambar biasa. Gambar tersebut tak lain poster-poster propaganda Mao Tse Tung ketika ia memgang kekuasaan di Cina.
Seperti halnya banyak pemegang kekuasaan, Mao pun ingin mempertahankan statusnya sebagai pemimpin partai. Apalagi ia mencetuskan Revolusi Kebudayaan di negeri itu hingga tahun 1970-an. Ia menyebutanya Great Leap.
Dari poster propaganda tersebut, Mao tidak hanya mempopulerkan Revolusi Kebudayaan, melainkan juga berusaha untuk mengultuskan dirinya. Usahanya boleh dibilang berhasil. Buktinya hingga kini masih banyak orang yang percaya dengan kebenaran ajaran Mao.
Dalam poster-poster yang termuat dalam buku ini, Mao menggambarkan dirinya sebagai sosok yang dicintai oleh rakyatnya, dan dapat membawa Cina ke arah yang kebih baik, Cina yang lebih makmur di bawah pemerintahan partai komunis.
Bahkan beberapa poster memperlihatkan pentingnya “melupakan” kepentingan diri sendiri, bahkan nyawa, untuk kepentingan partai.
Tapi toh dari beberapa catatan litartur yang ada, usaha Mao ternyata hanya isapan jempol. Usaha untuk memakmurkan Cina justru membawa penderitaan bagi rakyat. Bagaimana tidak, ketika Mao berkuasa kemiskinan semakin menjadi-jadi, kebebasan menjadi barang langka, dan tekanan terjadi kepada mereka yang dianggap memiiki orientasi ke Barat.
Poster-poster yang ada dalam buku ini paling tiak menjadi sebuah “monumen” yang mengingatkan kembali kepada siapa saja bahwa kekuasaan cenderung melanggengkan diri, dengan menghalalkan segala cara.
Kekurangan buku ini, menurut hemat saya, tidak adanya sebuah analisa yang memadai atas poster-poster tersebut. Poster-poster tersebut hanya memiliki data seputar pembuatnya, judul, dan latar belakang dibuatnya poster tersebut. Jika saja poster tersebut dilengkapi dengan kajian yang mendalam dengan melibatkan metodologi tertentu, semisal semiotik, maka buku ini akan menjadi lebih bernas.
Minggu, 17 Juni 2012
Review: Sebelas Patriot
Dalam rangka Euro Cup 2012 yang sedang berlangsung, penulis mau men-share-kan resensi sebuah novel yang membahas sepakbola. Sebelas Patriot karya Andrea Hirata memang merupakan sebuah novella yg memuat bagaimana perjuangan sebelas orang di atas lapangan untuk memncapai kemenangan. Dimuat sangat apik, khas novel-novelnya, Andrea menuliskan sebagian kecil kisah hidupnya ini.
Inilah resensi dari Saudari Dela, yang saya kutip langsung dari blognya: http://bukubukudela.blogspot.com/2011/07/sebelas-patriot-by-andrea-hirata.html
Selamat membaca! :)
Ikal found an old picture of a man, wore football custome, held shinning champion cup, but looked so sad. He is curious, who he is, why he looks so devastated after winning a game? He asked her mother, but she only told him to put the picture, back to where it belong. Ikal kept it silently, and determined to found out the story of the man in the picture.
Who would have thought that the picture brought old story, which makes Ikal realize that before his father become a poor,ordinary tin miner, he was a hero. A sad story but finally gives Ikal huge spirit to continue his father's struggle to achieve a purpose. Make the world knows Indonesia is here. Make everyone's proud to be an Indonesian. Will he succeed?
Andrea Hirata comes again with his novel, called Sebelas Patriot. While everyone is issuing if Ikal's character is real or not, he still use first perspective in this novel. It doesn't bother me, I haven't got bored with Ikal anyway.
What makes me interested, this novel contains about nasionalism spirit, a thing that forgotten this day. Ikal's story simply tells us how a picture could bring a passion to love his country more. He loves Indonesia with his own way, continuing his father's journey,by playing football. He dreams high, hope someday he could be national player, and defend national team in world championship.
Some part of this stories make me shudder. There's a time that I realize how many times I complain about this country, but have no action about it. The other parts make me sad, remember our football institution's chaos. When some people tries to achieve the best, and make Indonesia proud, some people screw it, staining it with money and politic.
After all, it's a good book. Hopefully you can gain some goodness from this book. And by the way, it comes with a CD, contain songs, written by Andrea Hirata himself. I haven't tried it, but it's said that the songs complete the story. You feel real deal!
Inilah resensi dari Saudari Dela, yang saya kutip langsung dari blognya: http://bukubukudela.blogspot.com/2011/07/sebelas-patriot-by-andrea-hirata.html
Selamat membaca! :)
Ikal found an old picture of a man, wore football custome, held shinning champion cup, but looked so sad. He is curious, who he is, why he looks so devastated after winning a game? He asked her mother, but she only told him to put the picture, back to where it belong. Ikal kept it silently, and determined to found out the story of the man in the picture.
Who would have thought that the picture brought old story, which makes Ikal realize that before his father become a poor,ordinary tin miner, he was a hero. A sad story but finally gives Ikal huge spirit to continue his father's struggle to achieve a purpose. Make the world knows Indonesia is here. Make everyone's proud to be an Indonesian. Will he succeed?
Andrea Hirata comes again with his novel, called Sebelas Patriot. While everyone is issuing if Ikal's character is real or not, he still use first perspective in this novel. It doesn't bother me, I haven't got bored with Ikal anyway.
What makes me interested, this novel contains about nasionalism spirit, a thing that forgotten this day. Ikal's story simply tells us how a picture could bring a passion to love his country more. He loves Indonesia with his own way, continuing his father's journey,by playing football. He dreams high, hope someday he could be national player, and defend national team in world championship.
Some part of this stories make me shudder. There's a time that I realize how many times I complain about this country, but have no action about it. The other parts make me sad, remember our football institution's chaos. When some people tries to achieve the best, and make Indonesia proud, some people screw it, staining it with money and politic.
After all, it's a good book. Hopefully you can gain some goodness from this book. And by the way, it comes with a CD, contain songs, written by Andrea Hirata himself. I haven't tried it, but it's said that the songs complete the story. You feel real deal!
Minggu, 22 April 2012
Anak Asrama - Juara I MuDA Creativity Ke-5
Pada tanggal 10 Maret 2012 lalu, para peserta (yang disebut volunter) MuDA Creativity merayakan anniversary mereka yang ke-5. Dalam acara ini, diumumkan pula para pemenang kompetisi kreatif (artikel, komik, dll.) dengan tema: "Investo, Investasikan Energimu Untuk Bumi". Pemenang pertama kompetisi penulisan adalah Hilaria Norma Wigati dan Santa Elisabeth Gloria Paramita dari SMA Pangudi Luhur Van Lith, yang artikelnya akan penulis re-publish di sini. Artikel mereka diterbitkan pertama kali oleh Harian KOMPAS, hari Jumat, 30 Maret 2012, berjudul "Anak Asrama", yang menceritakan bagaimana anak-anak asrama diwajibkan hidup sederhana, kemudian secara tidak sadar ikut berperan langsung dalam penghematan energi bumi.
Penulis berharap dengan ditampilkannya artikel mereka di sini, Jurnalis Remaja lainnya dapat lebih semangat lagi dalam meraih prestasi, khususnya dalam bidang jurnalistik. Lebih khusus lagi, penulis juga berharap para pembaca dapat mencoba hidup sederhana mencontoh anak-anak asrama untuk berpartisipasi dalam penghematan energi bumi.
Selamat membaca! :)
Tinggal di sebuah kota kecil bukan berarti kami tidak up to date dengan teknologi. Namun, ini merupakan sebuah pilihan bagi kami. Selama hampir tiga tahun di lereng Gunung Merapi, kami menjalani kehidupan di dalam sebuah asrama.
Pada tahun pertama, kami dituntut untuk tidak membawa handphone (HP) yang sudah menjadi kebutuhan remaja zaman sekarang. Terasa asing ketika kami sulit berkomunikasi, terutama dengan dunia luar yang bisa bebas update status dan berkirim pesan lewat BBM (Blackberry Messenger) setiap saat, atau mengetahui berita terbaru melalui gadget.
Tahun kedua, kamii diperbolehkan membawa HP meskipun penggunannya terbatas, hanya dua kali seminggu.
Bukan hanya itu, saat ini banyak sekolah yang menyediakan fasilitas ruangan yang menggunakan pendingin ruangan alias air conditioner, tetapi tidak untuk sekolah dan asrama kami yang hidup dalam kesederhanaan. Kami diajari untuk hidup saling berbagi. Contohnya, asrama putra dan asrama putri hanya menyediakan 30 komputer untuk semua siswa yang pemakaiannya dibatasi. Menjengkelkan, bukan? Apalagi kalau tugas-tugas mulai menumpuk dan kami harus bersabar mengantre menggunakan komputer.
Di sini kami tidak hanya tinggal bersama 1 sampai 2 orang, lho, tetapi juga bersama 499 orang lainnya. Bayangkan saja, berapa banyak sampah yang sudah berhasil kami ciptakan? Enggak kebayang, kan? Untungnya kami peduli dan berhasil mengurangi akibat buruk dari sampah-sampah ciptaan kami.
Contoh kecil saja, para siswi membersihkan pembalut yang telah dipakai dan memisahkan kapas dari plastiknya sebelum membuangnya. Selain itu, kami juga memisahkan sampah plastik dan botol, yang nantinya akan didaur ulang.
Menanam pohon
Kami jadi ingat, ketika masa orientasi siswa di sekolah, 153 pohon telah kami tanam di sekitar lingkungan sekolah. Hal yang sama juga dilakukan oleh angkatan-angkatan berikutnya, dan pada tahun 2011 sudah dilakukan oleh angkatan ke-21.
Sayangnya, di tahun 2010 terjadi sebuah bencana alam besar. Kalian tentu ingat kejadian yang menimpa masyarakat sekitar Gunung Merapi hampir 1,5 tahun yang lalu.
Muntahan gunung teraktif se-Indonesia itu mampu meluluhlantakan daerah sekitar gunung itu. Hal ini mengakibatkan kerusakan lingkungan, seperti rumah-rumah penduduk hancur akibat terjangan lahar dingin dan pohon-pohon tumbang karena tidak mampu menahan berat abu vulkanik dari Gunung Merapi. Beruntung, tradisi menanam pohon di setiap angkatan masih berjalan dengan baik sehingga dapat membantu pemulihan kerusakan lingkungan akibat bencana alam terebut.
Tidak berhenti di situ saja, kami juga tidak pernah menggunakan kendaraan motor atau mobil pribadi untuk berpergian. Kami berjalan kaki ketika hendak pergi dalam wilayah lokal. Apabila akan berpergian lebih jauh, kami memanfaatkan kendaraan umum yang ada, seperti andong, mobil angkutan umum dan bus.
Sudah hampir tiga tahun kami menjalani rutinitas seperti ini. Sengsara memang karena jarang membawa HP, gerah setiap kali kami belajar karena tidak ada AC, dan harus mau meluangkan waktu serta energi yang lebih untuk memisahkan sampah-sampah sesuai dengan jenisnya agar dapat didaur ulang. Ini semua kami lakukan karena kepedulian untuk memulihkan lingkungan yang rusak.
Kami pun rela berjalan kaki atau setidaknya menepis rasa gengsi agar mau naik kendaraan umum. Memang rutinitas ini membuat kami cukup jenuh, tetapi secara tidak sadar kebiasaan yang membosankan ini telah membuat kami menginvestasikan energi untuk bumi.
Bayangkan saja jika 499 siswa di sekolah kami diperbolehkan membawa HP setiap hari, berapa banyak energi listrik yang digunakan untuk men-charge baterai HP. Sama halnya ketika kami membiarkan sampah dari 499 siswa menumpuk dan membusuk begitu saja, pasti kerusakan lingkungan akan lebih parah. Ditambah lagi apabila tidak ada program menanam pohon setiap tahunnya, yang ada akan menambah gersang lingkungan, apalagi akibat peristiwa letusan Gunung Merapi.
Sekarang coba bayangkan, seandainya kami dan 499 siswa lainnya menggunakan sepeda motor atau mobil pribadi. Berapa banyak polusi yang kami ciptakan? Berapa banyak pula bahan bakar minyak yang telah kami habiskan? Bisa-bisa kami tidak menginvestasikan energi tetapi malah menguras energi bumi. Nah, lho!
Cerita kami tidak berhenti di sini saja. Masih ada hal lain yang kami lakukan, seperti membuat tas belanja dari kain yang bisa digunakan berulang-ulang. Jadi, kami dan siswa lain tidak perlu menggunakan tas dari supermarket saat belanja, yang mayoritas terbuat dari plastik. Setidaknya, apabila lupa membawa tas belanja, kami tidak membuang tas plasti begitu saja, melainkan menyimpan dan menggunakannya saat dibutuhkan.
Penulis berharap dengan ditampilkannya artikel mereka di sini, Jurnalis Remaja lainnya dapat lebih semangat lagi dalam meraih prestasi, khususnya dalam bidang jurnalistik. Lebih khusus lagi, penulis juga berharap para pembaca dapat mencoba hidup sederhana mencontoh anak-anak asrama untuk berpartisipasi dalam penghematan energi bumi.
Selamat membaca! :)
Anak Asrama
Jangan heran kalau melihat anak SMA jarang membawa "handphone", apalagi di zaman yang serba modern ini. Terlihat primitif gak, sih? Namun, inilah kami, dua siswi SMA yang diwajibkan tinggal di dalam asrama di sebuah kota kecil, Muntilan.
Tinggal di sebuah kota kecil bukan berarti kami tidak up to date dengan teknologi. Namun, ini merupakan sebuah pilihan bagi kami. Selama hampir tiga tahun di lereng Gunung Merapi, kami menjalani kehidupan di dalam sebuah asrama.
Pada tahun pertama, kami dituntut untuk tidak membawa handphone (HP) yang sudah menjadi kebutuhan remaja zaman sekarang. Terasa asing ketika kami sulit berkomunikasi, terutama dengan dunia luar yang bisa bebas update status dan berkirim pesan lewat BBM (Blackberry Messenger) setiap saat, atau mengetahui berita terbaru melalui gadget.
Tahun kedua, kamii diperbolehkan membawa HP meskipun penggunannya terbatas, hanya dua kali seminggu.
Bukan hanya itu, saat ini banyak sekolah yang menyediakan fasilitas ruangan yang menggunakan pendingin ruangan alias air conditioner, tetapi tidak untuk sekolah dan asrama kami yang hidup dalam kesederhanaan. Kami diajari untuk hidup saling berbagi. Contohnya, asrama putra dan asrama putri hanya menyediakan 30 komputer untuk semua siswa yang pemakaiannya dibatasi. Menjengkelkan, bukan? Apalagi kalau tugas-tugas mulai menumpuk dan kami harus bersabar mengantre menggunakan komputer.
Di sini kami tidak hanya tinggal bersama 1 sampai 2 orang, lho, tetapi juga bersama 499 orang lainnya. Bayangkan saja, berapa banyak sampah yang sudah berhasil kami ciptakan? Enggak kebayang, kan? Untungnya kami peduli dan berhasil mengurangi akibat buruk dari sampah-sampah ciptaan kami.
Contoh kecil saja, para siswi membersihkan pembalut yang telah dipakai dan memisahkan kapas dari plastiknya sebelum membuangnya. Selain itu, kami juga memisahkan sampah plastik dan botol, yang nantinya akan didaur ulang.
Menanam pohon
Kami jadi ingat, ketika masa orientasi siswa di sekolah, 153 pohon telah kami tanam di sekitar lingkungan sekolah. Hal yang sama juga dilakukan oleh angkatan-angkatan berikutnya, dan pada tahun 2011 sudah dilakukan oleh angkatan ke-21.
Sayangnya, di tahun 2010 terjadi sebuah bencana alam besar. Kalian tentu ingat kejadian yang menimpa masyarakat sekitar Gunung Merapi hampir 1,5 tahun yang lalu.
Muntahan gunung teraktif se-Indonesia itu mampu meluluhlantakan daerah sekitar gunung itu. Hal ini mengakibatkan kerusakan lingkungan, seperti rumah-rumah penduduk hancur akibat terjangan lahar dingin dan pohon-pohon tumbang karena tidak mampu menahan berat abu vulkanik dari Gunung Merapi. Beruntung, tradisi menanam pohon di setiap angkatan masih berjalan dengan baik sehingga dapat membantu pemulihan kerusakan lingkungan akibat bencana alam terebut.
Tidak berhenti di situ saja, kami juga tidak pernah menggunakan kendaraan motor atau mobil pribadi untuk berpergian. Kami berjalan kaki ketika hendak pergi dalam wilayah lokal. Apabila akan berpergian lebih jauh, kami memanfaatkan kendaraan umum yang ada, seperti andong, mobil angkutan umum dan bus.
Sudah hampir tiga tahun kami menjalani rutinitas seperti ini. Sengsara memang karena jarang membawa HP, gerah setiap kali kami belajar karena tidak ada AC, dan harus mau meluangkan waktu serta energi yang lebih untuk memisahkan sampah-sampah sesuai dengan jenisnya agar dapat didaur ulang. Ini semua kami lakukan karena kepedulian untuk memulihkan lingkungan yang rusak.
Kami pun rela berjalan kaki atau setidaknya menepis rasa gengsi agar mau naik kendaraan umum. Memang rutinitas ini membuat kami cukup jenuh, tetapi secara tidak sadar kebiasaan yang membosankan ini telah membuat kami menginvestasikan energi untuk bumi.
Bayangkan saja jika 499 siswa di sekolah kami diperbolehkan membawa HP setiap hari, berapa banyak energi listrik yang digunakan untuk men-charge baterai HP. Sama halnya ketika kami membiarkan sampah dari 499 siswa menumpuk dan membusuk begitu saja, pasti kerusakan lingkungan akan lebih parah. Ditambah lagi apabila tidak ada program menanam pohon setiap tahunnya, yang ada akan menambah gersang lingkungan, apalagi akibat peristiwa letusan Gunung Merapi.
Sekarang coba bayangkan, seandainya kami dan 499 siswa lainnya menggunakan sepeda motor atau mobil pribadi. Berapa banyak polusi yang kami ciptakan? Berapa banyak pula bahan bakar minyak yang telah kami habiskan? Bisa-bisa kami tidak menginvestasikan energi tetapi malah menguras energi bumi. Nah, lho!
Cerita kami tidak berhenti di sini saja. Masih ada hal lain yang kami lakukan, seperti membuat tas belanja dari kain yang bisa digunakan berulang-ulang. Jadi, kami dan siswa lain tidak perlu menggunakan tas dari supermarket saat belanja, yang mayoritas terbuat dari plastik. Setidaknya, apabila lupa membawa tas belanja, kami tidak membuang tas plasti begitu saja, melainkan menyimpan dan menggunakannya saat dibutuhkan.
Tas Belanja Van Lith
Meski tidak banyak, ternyata kami telah berhasil menginvestasikan energi kami untuk bumi. Hal ini kami lakukan secara teratur bersama dengan teman-teman kami yang peduli terhadap bumi.
Kalian juga bisa menginvestasikan energi dengan cara kalian masing-masing sebagai bentuk cinta dan kepedulian terhadap bumi kita. So, let's invest our energy to our lovely earth!
(PENULIS: HILARIA NORMA WIGATI DAN SANTA ELISABETH GLORIA PARAMITA, siswi SMA Pangudi Luhur Van Lith, Muntilan, Jawa Tengah)
NB:
Penulis beruntung diberi izin untuk re-publish artikel ini saat ngobrol-ngobrol ringan dengan salah satu penulis (Norma) di asrama kami. :]
V,
dia...Z
Kamis, 09 Februari 2012
Koran Indonesia dari Masa Ke Masa
Selamat Hari Pers Nasional, Jurnalis Remaja! :D
Untuk memeperingati Hari Pers ini, Jurnalistik Remaja mau re-blog tentang koran-koran di Indonesia, mulai dari zaman Jepang sampai yang masih bertahan sampai sekarang.
Selamat membaca! Teruslah menulis! :)
Perjalanan Awal
Arnold Mononutu adalah nasionalis Indonesia Bagian Timur yang pro Republik Indonesia di zaman perjuangan kemerdekaan. Ia juga teman Bung Hatta semasa mahasiswa di Negeri Belanda tahun 1920-an. Ketika Presiden Soekarno melarang terbit surat kabar Pedoman, Indonesia Raya, dan Abadi, Januari 1961, tokoh yang akrab dipanggil Om No ini berkomentar di depan saya, "Koran-koran yang dibredel itu koran perjuangan zaman revolusi. Nilai sejarahnya dilenyapkan begitu saja. Tanda kita sebagai bangsa tidak tahu menghargai sejarah kita sendiri."
Dengan datangnya Orde Baru, ketiga koran itu terbit kembali. Namun, tidak lama. Pada Peristiwa Malari, Januari 1974, pemerintahan Soeharto memberangus mereka kembali. Om No yang mantan Menteri Penerangan RI dalam Kabinet Wilopo (1952 – 1954) itu kembali berkomentar, "Matematika koran-koran itu menunjukkan pemerintah tidak mempunyai sense of history, nalar sejarah. Di India ada koran berusia lebih dari seabad, seperti The Hindu di Madras dan Times of India di Bombay. Di India, tradisi dipertahankan dan warisan sejarah dihormati. Sedangkan di negeri kita hal itu dianggap enteng dan tidak penting. Bila pemerintah tidak senang terhadap koran yang beroposisi, ya langsung dicabut izin terbitnya. Bagaimana kita mau berkembang jadi dewasa sebagai bangsa?"
Di Amerika Serikat, Koran New York Times yang pertama terbit tahun 1851 kini berusia 152 tahun. Di Indonesia mustahil ada koran setua itu. Jika dihitung sejak proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945, ada beberapa koran saja yang bisa disebutkan. Kebanyakan sudah mati.
Didukung intellectual community
Koran yang terhitung panjang usia misalnya Kedaulatan Rakyat (KR) di Yogyakarta. Kini usianya lebih dari 40 tahun. KR didirikan tanggal 27 September 2003. Perintisnya, H. Samawi (1913 – 1984) dan M. Wonohito (1912 – 1984). Pada 1945 – 1946 KR dipimpin oleh Soemantoro sebagai pemimpin redaksi (pemred). Ketika itu dia kerap mendampingi Ibrahim Tan Malaka yang tengah menggalang Persatuan Perjuangan sebagai oposisi terhadap kabinet Sjahrir yang melaksanakan kebijakan diplomasi dan perjuangan dalam menghadapi Belanda. Soemantoro pula yang membawa Tan Malaka ke Solo untuk berbicara di konferensi pembentukan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1946.
Setelah Wonohito, mantan mahasiswa Sekolah Hukum Tinggi (RHS) di Batavia memegang kendali redaksi, KR menjadi koran yang mendukung pemerintah dan bersikap moderat. Karena itu, KR selamat melalui badai politik.
KR adalah contoh community paper yang terbatas pada Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia juga mendapat dukungan intellectual community seperti dari Universitas Gadjah Mada. Kini dalam jajaran pimpinannya terdapat putra almarhum Wonohito, Dr. H. Soemadi M. Wonohito, SH sebagai direktur utama, Dr. Ir. Sapuan Gafar sebagai direktur keuangan, dan Drs. Oka Kusumayudha sebagai pemred. Kabarnya, tiras KR mencapai 60.000 eksemplar tiap hari. Kini KR juga menerbitkan media cetak lain yang berada di bawah payung grup KR seperti Minggu Pagi, dan lain-lain.
Tak jauh dari Yogyakarta, tepatnya di Semarang ada Harian Suara Merdeka. Pada awal 1950 koran ini dipimpin oleh Hetami, mahasiswa drop out dari Faculteit Letteren en Wijsbegeerta Batavia. Di zaman Jepang Hetami bersama Gadis Rasid bekerja pada Harian Sinar Baroe yang pemrednya Parada Harahap.
Hetami bukan penulis yang menarik dan jenaka seperti Wonohito dalam kolom profilnya di Minggu Pagi. Kekuatan Hetami terletak pada keterampilannya menulis tajuk berita yang "catching" dan serta merta menangkap perhatian pembaca. Ia teliti menyunting berita luar negeri yang pada waktu itu harus didengar dan dimonitor sendiri dari pesawat radio. Ia suka berita atau tulisan pendek, bernas, dan mudah dipahami. Lay out Suara Merdeka dibuatnya khas, tidak sama dengan penampilan koran lain. Berkat kepemimpinannya, Suara Merdeka berkembang pesat, survive di tengah partijpolitiek zaman Orde Lama.
Setelah Hetami meninggal, ia digantikan oleh menantunya, Ir. Santoso. Santoso kemudian menjelma menjadi manajer nomor wahid dan membawa Suara Merdeka ke tingkat sukses. Praktis, koran itu dominan di Provinsi Jawa Tengah.
Santoso juga menerbitkan media cetak lain yang berada di bawah naungan Suara Merdeka, seperti Harian Sore Wawasan.
Waspada-Pedoman Rakyat
Di Sumatera Utara juga ada harian tua lainnya, yaitu Waspada. Koran ini lahir 11 Januari 1947 dan dipimpin oleh Mohammad Said. Suatu kali Said bercerita, "Ketika itu, Januari 1947, penduduk Kota Medan berjumlah 300.000 orang. Keadaan sangat sepi karena banyak penduduk yang telah mengungsi. De facto Kota Medan saat itu diperintah oleh Belanda, menyusul timbang terima dari tentara Inggris. Di jalan-jalan hanya terlihat orang Tionghoa. Mereka dilindungi Belanda dan Poh An Tui."
Berkali-kali Waspada dibredel Belanda, sehingga koran ini hidup senin-kemis. Mohammad Said dan istrinya, Ani Idrus, adalah wartawan yang dikenal dan akrab dengan masyarakat Sumatera Timur. Maka, ketika Waspada terbit kembali setelah dibredel, penjualan ecerannya laris di Pasar Kesawan. Suatu hal yang unik, Harian Waspada mempunyai banyak pembaca di Provinsi Aceh.
Setelah Mohammad Said mengundurkan diri di tahun 1969, Ani Idrus mengambil alih pimpinan Waspada. Said tutup usia tahun 1995, Ani menyusul empat tahun kemudian. Kini, Waspadadikelola oleh putra-putri Mohammad Said-Ani Idrus.
Di Sulawesi Selatan juga terdapat harian berumur lebih dari 40 tahun. Namanya, Pedoman Rakyat. Harian ini terbit di Makassar. Mulanya dipimpin oleh Henk Rondonuwu, Menteri Penerangan dalam pemerintah Negara Indonesia Timur (NIT). Namun, kemudian diambil alih oleh L.E. Manuhua. Meskipun muncul di zaman Federal, surat kabar ini berorientasi pada Republik yang dipimpin oleh Soekarno-Hatta.
Ketika tahun 1987 diadakan Karya Latihan Wartawan (KLW-PWI) di Makassar, posisi Pedoman Rakyat di masyarakat Sulawesi Selatan dikaji oleh para peserta. Sebuah riset juga telah dilakukan oleh Prof. Abdul Muis, SH, guru besar di Universitas Hasanuddin. Salah satu hasil temuannya adalah minat baca rakyat Sulawesi Selatan pada umumnya kurang. Ada petani yang mampu membeli pesawat televisi yang dinyalakan menggunakan aki. Di desa-desa terdapat lemari es, tetapi karena tidak ada aliran listrik, alat penyimpan bahan makanan berpendingin ini tidak bisa difungsikan.
Akibatnya, refrigerator itu dipakai untuk menyimpan baju. Sementara, tidak terpikirkan oleh mereka untuk membaca surat kabar seperti Pedoman Rakyat. Koran ini sampai sekarang masih ada, tetapi Manuhua sudah sakit-sakitan.Pedoman Rakyat terus begitu saja.
Tua semu
Selain surat kabar yang benar-benar berusia lebih dari 40 tahun, ada pula harian yang telah berusia lebih dari 40 tahun meski tidak sesungguhnya. Koran Merdeka, misalnya. Koran ini terbit pertama kali 1 Oktober 1945. B.M. Diah jadi pemimpin umum/pemimpin redaksi, sedangkan redaktur pelaksananya Rosihan Anwar. Keduanya pada akhir 1946 berpisah karena konflik soal kepemilikan surat kabar itu. Diah mengklaimMerdeka milik pribadinya. Rosihan Anwar melawan dengan menyatakan, Merdeka milik bersama wartawan dan karyawan.
Akhirnya, Rosihan mendirikan Pedoman yang mencapai posisi bagus pada dasawarsa 1950-an. Diah mengoperasikan Merdeka. Lalu, dia bekerja sama dengan Dahlan Iskan, bos grup Jawa Posuntuk mengelola Harian Merdeka. Pecah kongsi toh terjadi kembali. Merdeka berubah nama menjadi Rakyat Merdeka dan kepemilikannya dikuasai sepenuhnya oleh Jawa Pos. Merdekayang dahulu koran keluarga, sudah almarhum. Jadi, tak bisa lagi dicatat sebagai koran berusia lebih dari 40 tahun.
Koran lain yang tua semu ialah Pikiran Rakyat (PR) di Bandung. Pada awal 1950 koran ini dipimpin oleh wartawan A.Z. Palindih dan Djamal Ali. Koran ini pun sempat menghadapi kesulitan internal. Antara pimpinan dan wartawan timbul ketidakharmonisan. Dari kalangan eksternal, datang tekanan golongan komunis.
Serangan Partai Komunis Indonesia (PKI) begitu gencar, sehingga PR harus mencari perlindungan pada Kodam Siliwangi. Caranya, dengan mengganti nama untuk sementara waktu dan berafiliasi dengan tentara. Akhirnya, Sakti Alamsyah bersama beberapa rekannya seperti Atang Ruswita mendirikan Pikiran Rakyat gaya baru yang berkembang menjadi surat kabar terkemuka di Jawa Barat.
Setelah Atang Ruswita mengambil alih manajemen PR dari Sakti Alamsyah yang tutup usia, maka harian ini berkembang baik sekali. Kini grup PR memiliki media cetak di berbagai kota di Jawa Barat. Namun, dihitung dari saat PR gaya baru terbit, usianya belum mencapai 40 tahun.
Sumber: Surono, Agus. 2011. Selamat Ulang Tahun Intisari. http://intisari-online.com/read/selamat-ulang-tahun-intisari-. 24 Januari 2012
Kompas Gramedia Magazine copyright@2011
Untuk memeperingati Hari Pers ini, Jurnalistik Remaja mau re-blog tentang koran-koran di Indonesia, mulai dari zaman Jepang sampai yang masih bertahan sampai sekarang.
Selamat membaca! Teruslah menulis! :)
Perjalanan Awal
Arnold Mononutu adalah nasionalis Indonesia Bagian Timur yang pro Republik Indonesia di zaman perjuangan kemerdekaan. Ia juga teman Bung Hatta semasa mahasiswa di Negeri Belanda tahun 1920-an. Ketika Presiden Soekarno melarang terbit surat kabar Pedoman, Indonesia Raya, dan Abadi, Januari 1961, tokoh yang akrab dipanggil Om No ini berkomentar di depan saya, "Koran-koran yang dibredel itu koran perjuangan zaman revolusi. Nilai sejarahnya dilenyapkan begitu saja. Tanda kita sebagai bangsa tidak tahu menghargai sejarah kita sendiri."
Dengan datangnya Orde Baru, ketiga koran itu terbit kembali. Namun, tidak lama. Pada Peristiwa Malari, Januari 1974, pemerintahan Soeharto memberangus mereka kembali. Om No yang mantan Menteri Penerangan RI dalam Kabinet Wilopo (1952 – 1954) itu kembali berkomentar, "Matematika koran-koran itu menunjukkan pemerintah tidak mempunyai sense of history, nalar sejarah. Di India ada koran berusia lebih dari seabad, seperti The Hindu di Madras dan Times of India di Bombay. Di India, tradisi dipertahankan dan warisan sejarah dihormati. Sedangkan di negeri kita hal itu dianggap enteng dan tidak penting. Bila pemerintah tidak senang terhadap koran yang beroposisi, ya langsung dicabut izin terbitnya. Bagaimana kita mau berkembang jadi dewasa sebagai bangsa?"
Di Amerika Serikat, Koran New York Times yang pertama terbit tahun 1851 kini berusia 152 tahun. Di Indonesia mustahil ada koran setua itu. Jika dihitung sejak proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945, ada beberapa koran saja yang bisa disebutkan. Kebanyakan sudah mati.
Didukung intellectual community
Koran yang terhitung panjang usia misalnya Kedaulatan Rakyat (KR) di Yogyakarta. Kini usianya lebih dari 40 tahun. KR didirikan tanggal 27 September 2003. Perintisnya, H. Samawi (1913 – 1984) dan M. Wonohito (1912 – 1984). Pada 1945 – 1946 KR dipimpin oleh Soemantoro sebagai pemimpin redaksi (pemred). Ketika itu dia kerap mendampingi Ibrahim Tan Malaka yang tengah menggalang Persatuan Perjuangan sebagai oposisi terhadap kabinet Sjahrir yang melaksanakan kebijakan diplomasi dan perjuangan dalam menghadapi Belanda. Soemantoro pula yang membawa Tan Malaka ke Solo untuk berbicara di konferensi pembentukan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1946.
Setelah Wonohito, mantan mahasiswa Sekolah Hukum Tinggi (RHS) di Batavia memegang kendali redaksi, KR menjadi koran yang mendukung pemerintah dan bersikap moderat. Karena itu, KR selamat melalui badai politik.
KR adalah contoh community paper yang terbatas pada Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia juga mendapat dukungan intellectual community seperti dari Universitas Gadjah Mada. Kini dalam jajaran pimpinannya terdapat putra almarhum Wonohito, Dr. H. Soemadi M. Wonohito, SH sebagai direktur utama, Dr. Ir. Sapuan Gafar sebagai direktur keuangan, dan Drs. Oka Kusumayudha sebagai pemred. Kabarnya, tiras KR mencapai 60.000 eksemplar tiap hari. Kini KR juga menerbitkan media cetak lain yang berada di bawah payung grup KR seperti Minggu Pagi, dan lain-lain.
Tak jauh dari Yogyakarta, tepatnya di Semarang ada Harian Suara Merdeka. Pada awal 1950 koran ini dipimpin oleh Hetami, mahasiswa drop out dari Faculteit Letteren en Wijsbegeerta Batavia. Di zaman Jepang Hetami bersama Gadis Rasid bekerja pada Harian Sinar Baroe yang pemrednya Parada Harahap.
Hetami bukan penulis yang menarik dan jenaka seperti Wonohito dalam kolom profilnya di Minggu Pagi. Kekuatan Hetami terletak pada keterampilannya menulis tajuk berita yang "catching" dan serta merta menangkap perhatian pembaca. Ia teliti menyunting berita luar negeri yang pada waktu itu harus didengar dan dimonitor sendiri dari pesawat radio. Ia suka berita atau tulisan pendek, bernas, dan mudah dipahami. Lay out Suara Merdeka dibuatnya khas, tidak sama dengan penampilan koran lain. Berkat kepemimpinannya, Suara Merdeka berkembang pesat, survive di tengah partijpolitiek zaman Orde Lama.
Setelah Hetami meninggal, ia digantikan oleh menantunya, Ir. Santoso. Santoso kemudian menjelma menjadi manajer nomor wahid dan membawa Suara Merdeka ke tingkat sukses. Praktis, koran itu dominan di Provinsi Jawa Tengah.
Santoso juga menerbitkan media cetak lain yang berada di bawah naungan Suara Merdeka, seperti Harian Sore Wawasan.
Waspada-Pedoman Rakyat
Di Sumatera Utara juga ada harian tua lainnya, yaitu Waspada. Koran ini lahir 11 Januari 1947 dan dipimpin oleh Mohammad Said. Suatu kali Said bercerita, "Ketika itu, Januari 1947, penduduk Kota Medan berjumlah 300.000 orang. Keadaan sangat sepi karena banyak penduduk yang telah mengungsi. De facto Kota Medan saat itu diperintah oleh Belanda, menyusul timbang terima dari tentara Inggris. Di jalan-jalan hanya terlihat orang Tionghoa. Mereka dilindungi Belanda dan Poh An Tui."
Berkali-kali Waspada dibredel Belanda, sehingga koran ini hidup senin-kemis. Mohammad Said dan istrinya, Ani Idrus, adalah wartawan yang dikenal dan akrab dengan masyarakat Sumatera Timur. Maka, ketika Waspada terbit kembali setelah dibredel, penjualan ecerannya laris di Pasar Kesawan. Suatu hal yang unik, Harian Waspada mempunyai banyak pembaca di Provinsi Aceh.
Setelah Mohammad Said mengundurkan diri di tahun 1969, Ani Idrus mengambil alih pimpinan Waspada. Said tutup usia tahun 1995, Ani menyusul empat tahun kemudian. Kini, Waspadadikelola oleh putra-putri Mohammad Said-Ani Idrus.
Di Sulawesi Selatan juga terdapat harian berumur lebih dari 40 tahun. Namanya, Pedoman Rakyat. Harian ini terbit di Makassar. Mulanya dipimpin oleh Henk Rondonuwu, Menteri Penerangan dalam pemerintah Negara Indonesia Timur (NIT). Namun, kemudian diambil alih oleh L.E. Manuhua. Meskipun muncul di zaman Federal, surat kabar ini berorientasi pada Republik yang dipimpin oleh Soekarno-Hatta.
Ketika tahun 1987 diadakan Karya Latihan Wartawan (KLW-PWI) di Makassar, posisi Pedoman Rakyat di masyarakat Sulawesi Selatan dikaji oleh para peserta. Sebuah riset juga telah dilakukan oleh Prof. Abdul Muis, SH, guru besar di Universitas Hasanuddin. Salah satu hasil temuannya adalah minat baca rakyat Sulawesi Selatan pada umumnya kurang. Ada petani yang mampu membeli pesawat televisi yang dinyalakan menggunakan aki. Di desa-desa terdapat lemari es, tetapi karena tidak ada aliran listrik, alat penyimpan bahan makanan berpendingin ini tidak bisa difungsikan.
Akibatnya, refrigerator itu dipakai untuk menyimpan baju. Sementara, tidak terpikirkan oleh mereka untuk membaca surat kabar seperti Pedoman Rakyat. Koran ini sampai sekarang masih ada, tetapi Manuhua sudah sakit-sakitan.Pedoman Rakyat terus begitu saja.
Tua semu
Selain surat kabar yang benar-benar berusia lebih dari 40 tahun, ada pula harian yang telah berusia lebih dari 40 tahun meski tidak sesungguhnya. Koran Merdeka, misalnya. Koran ini terbit pertama kali 1 Oktober 1945. B.M. Diah jadi pemimpin umum/pemimpin redaksi, sedangkan redaktur pelaksananya Rosihan Anwar. Keduanya pada akhir 1946 berpisah karena konflik soal kepemilikan surat kabar itu. Diah mengklaimMerdeka milik pribadinya. Rosihan Anwar melawan dengan menyatakan, Merdeka milik bersama wartawan dan karyawan.
Akhirnya, Rosihan mendirikan Pedoman yang mencapai posisi bagus pada dasawarsa 1950-an. Diah mengoperasikan Merdeka. Lalu, dia bekerja sama dengan Dahlan Iskan, bos grup Jawa Posuntuk mengelola Harian Merdeka. Pecah kongsi toh terjadi kembali. Merdeka berubah nama menjadi Rakyat Merdeka dan kepemilikannya dikuasai sepenuhnya oleh Jawa Pos. Merdekayang dahulu koran keluarga, sudah almarhum. Jadi, tak bisa lagi dicatat sebagai koran berusia lebih dari 40 tahun.
Koran lain yang tua semu ialah Pikiran Rakyat (PR) di Bandung. Pada awal 1950 koran ini dipimpin oleh wartawan A.Z. Palindih dan Djamal Ali. Koran ini pun sempat menghadapi kesulitan internal. Antara pimpinan dan wartawan timbul ketidakharmonisan. Dari kalangan eksternal, datang tekanan golongan komunis.
Serangan Partai Komunis Indonesia (PKI) begitu gencar, sehingga PR harus mencari perlindungan pada Kodam Siliwangi. Caranya, dengan mengganti nama untuk sementara waktu dan berafiliasi dengan tentara. Akhirnya, Sakti Alamsyah bersama beberapa rekannya seperti Atang Ruswita mendirikan Pikiran Rakyat gaya baru yang berkembang menjadi surat kabar terkemuka di Jawa Barat.
Setelah Atang Ruswita mengambil alih manajemen PR dari Sakti Alamsyah yang tutup usia, maka harian ini berkembang baik sekali. Kini grup PR memiliki media cetak di berbagai kota di Jawa Barat. Namun, dihitung dari saat PR gaya baru terbit, usianya belum mencapai 40 tahun.
Sumber: Surono, Agus. 2011. Selamat Ulang Tahun Intisari. http://intisari-online.com/read/selamat-ulang-tahun-intisari-. 24 Januari 2012
Kompas Gramedia Magazine copyright@2011
Selasa, 17 Januari 2012
Tips dan Trik Sukses Ujian
Ujian Nasional, ujian yang diadakan oleh negara untuk siswa-siswi kelas 3 SMP maupun SMA yang menjadi pro dan kontra. Ada yang setuju dengan sistem ini, ada pula yang tidak. Bahkan, ada banyak orang yang menggunakan ajang ini untuk mencari uang dari orang-orang yang anti-kesulitan. Walaupun banyak bukti bahwa mencontek adalah suatu hal yang tak terpuji, namun tetap saja ada yang melakukannya.
Ujian ini diadakan serentak di seluruh Indonesia. Tahun ini Ujian Nasional diadakan tanggal 16-19 April 2012.
Dalam kriteria kelulusan, tahun ini tidak hanya menggunakan nilai Ujian Nasional saja, namun nilai Ujian Sekolah mempunyai bobot 40% untuk kelulusan. Sehingga, siswa-siswi kelas 3 harus benar-benar memegang teguh kedua ujian tersebut agar bisa lulus Mei nanti.
Maka dari itu, di sini akan diberikan beberapa tips dan trik, agar saat ujian kita dapat lebih teliti dan mendapatkan kemungkinan terbesar untuk sukses dalam ujian.
1. Baca soal dengan teliti dan cermat sebelum menjawab, pahami apa yang ditanyakan.
Jika biasanya kita hanya membaca soal sepintas lalu saja, maka mulai sekarang jangan remehkan soal. Bacalah soal-soal yang ada seteliti mungkin.
2. Perhatikan waktu, lewati yang sulit agar bisa mengerjakan soal-soal yang lebih mudah.
Jangan terbiasa berkutat pada satu soal saja. Ketuntasan per mata pelajaran UN tahun ini adalah 4,0. Maka usahakan waktunya cukup untuk mengerjakan dan menjawab minimal 40% dari seluruh soal.
3. Semua soal harus dijawab, 10 menit terakhir, LJUN harus sudah terisi semua.
Meskipun tak yakin jawaban kita benar atau tidak, sebaiknya kita mengarsir seluruh nomor di lembar jawab ketika 10 menit terakhir. Soal UN adalah pilihan ganda dan tidak ada poin minus, maka kita masih mempunyai peluan 20-25% jawaban benar walaupun "menembak".
4. Kerjakan dengan tenang.
Mempersiapkan seluruh alat tulis semalam sebelum ujian, hadir di tempat ujian minimal 15 menit sebelum ujian dimulai, dan berdoa sebelum ujian, adalah cara-cara terbaik untuk mendapatkan ketenangan saat ujian berlangsung.
Selamat belajar, semoga kita selalu sukses dalam ujian!
Ujian ini diadakan serentak di seluruh Indonesia. Tahun ini Ujian Nasional diadakan tanggal 16-19 April 2012.
Dalam kriteria kelulusan, tahun ini tidak hanya menggunakan nilai Ujian Nasional saja, namun nilai Ujian Sekolah mempunyai bobot 40% untuk kelulusan. Sehingga, siswa-siswi kelas 3 harus benar-benar memegang teguh kedua ujian tersebut agar bisa lulus Mei nanti.
Maka dari itu, di sini akan diberikan beberapa tips dan trik, agar saat ujian kita dapat lebih teliti dan mendapatkan kemungkinan terbesar untuk sukses dalam ujian.
1. Baca soal dengan teliti dan cermat sebelum menjawab, pahami apa yang ditanyakan.
Jika biasanya kita hanya membaca soal sepintas lalu saja, maka mulai sekarang jangan remehkan soal. Bacalah soal-soal yang ada seteliti mungkin.
2. Perhatikan waktu, lewati yang sulit agar bisa mengerjakan soal-soal yang lebih mudah.
Jangan terbiasa berkutat pada satu soal saja. Ketuntasan per mata pelajaran UN tahun ini adalah 4,0. Maka usahakan waktunya cukup untuk mengerjakan dan menjawab minimal 40% dari seluruh soal.
3. Semua soal harus dijawab, 10 menit terakhir, LJUN harus sudah terisi semua.
Meskipun tak yakin jawaban kita benar atau tidak, sebaiknya kita mengarsir seluruh nomor di lembar jawab ketika 10 menit terakhir. Soal UN adalah pilihan ganda dan tidak ada poin minus, maka kita masih mempunyai peluan 20-25% jawaban benar walaupun "menembak".
4. Kerjakan dengan tenang.
Mempersiapkan seluruh alat tulis semalam sebelum ujian, hadir di tempat ujian minimal 15 menit sebelum ujian dimulai, dan berdoa sebelum ujian, adalah cara-cara terbaik untuk mendapatkan ketenangan saat ujian berlangsung.
Selamat belajar, semoga kita selalu sukses dalam ujian!
Minggu, 01 Januari 2012
Kamis, 22 Desember 2011
Facts - 1
Refer to history, fried rice (Indonesian: nasi goreng) exists since 4000 BC.
In White House, there are 132 rooms, 35 bathrooms, 412 doors, 147 windows, 8 stairs, and 3 elevators.
When we scared, our bodies release endorphine hormon to heal the pain, and adrenaline hormon to give extra power.
A computer keyboard has germ 5 times more than toilet on its surface.
Plastic Christmas tree was first published by Sears, Roebuck & Co. in 1883.
Source: @MencobaBelajar
In White House, there are 132 rooms, 35 bathrooms, 412 doors, 147 windows, 8 stairs, and 3 elevators.
When we scared, our bodies release endorphine hormon to heal the pain, and adrenaline hormon to give extra power.
A computer keyboard has germ 5 times more than toilet on its surface.
Plastic Christmas tree was first published by Sears, Roebuck & Co. in 1883.
Source: @MencobaBelajar
Rabu, 23 November 2011
Komodos
Komodos are reptiles. They are classified in Varanidae (monitoring lizard) family. Komodos are the biggest lizard in the world. They grow until their big size because of island gigantism, the effect of the condition that there is not any carnivore in the island they live. They don’t have hearing sense, but they have very strong sense to detect, taste and smell using their tongue, just like the other reptiles. They have poor sight in night and cannot see the differences of moving and unmoving objects.
Komodos can run up to 20 kilometers per hour for short track. They are good swimmers too. They can dive until 4.5 meters. They also can climb trees using their powerful claws.They use their claws and their saliva to hunt. Their saliva is very dangerous because their saliva is deathly.
Komodos reproduce with eggs. The females usually lay her eggs in nest that is not used. The eggs have incubation period for 7-8 months. After hatch, the young Komodos will spend their much life on the trees, where they are safe from the adult Komodos that cannibals.
Most of Komodos live in Komodo Island, which is located in East Nusa Tenggara. They spread to other islands around Komodo Island like Rinca, Flores, Gili Motang and Gili Dasami. There are only thousands of Komodos that exist now, and it is still decreasing. So, there are many zoos and organizations that make captivity for Komodos. Those captivity are very good for tourism, especially Komodo Island which has been elected to be one of 7 Wonders of the World, because of those unique Komodos.
Source: Wikipedia
Minggu, 06 November 2011
Madre
Judul Buku : Madre
Pengarang : Dee
Penerbit : Bentang
Cetakan dan Tahun Terbit : Cetakan I tahun 2011
Tebal Buku : 160 halaman
Dee, atau juga dikenal dengan nama aslinya, Dewi Lestari, adalah salah satu pengarang wanita Indonesia yang telah matang. Mulai meniti karir menulis sejak tahun 2001 dalam epic Supernova, hingga sekarang tahun 2011, karya-karya Dee semakin terlihat kerapian dan kedewasaan dalam pola pikir. Jika dibandingkan dengan Supernova, tentu Madre menyimpan lebih banyak makna dalam sentilan-sentilan bijak khas Dee.
Madre ini merupakan kumpulan-kumpulan karya Dee selama rentang waktu 5 tahun antara tahun 2006-2011. Beberapa sudah pernah dipublikasikan di media cetak maupun elektronik. Banyak tema yang diangkat di buku ini, karena buku ini merupakan sebuah kumpulan cerita.Tidak hanya kumpulan cerita, puisi-puisi yang pernah Dee tulis juga bisa ditemukan di dalam buku ini. Tema-tema yang hadir pada buku ini mulai dari takdir, kesetiaan, soulmate, persahabatan dan tentu saja cinta. Cerita utama dan yang pertama adalah Madre itu sendiri, yang menceritakan tentang panggilan hidup dalam pekerjaan.Cerita mengenai takdir yang datang untuk diketahui cukup terlambat dan tiba-tiba, membawa seseorang kepada pekerjaan yang tak pernah disangkanya untuk ditekuni. Juga ada puisi percakapan seorang ibu dengan janinnya, yang sungguh tak terduga isinya.
Buku ini dapat membuat orang, apalagi yang sudah mengenal karya-karya Dee, tertarik untuk membacanya.Dari sinopsis singkat yang ada di belakang buku, kita langsung akan bertanaya, siapakah Madre itu sebenarnya. Si tokoh yang menjadi judul buku ini tidak semua orang bisa menduganya. Sayangnya, tidak semua orang yang melihat buku ini akan segera menyimpulkan bahwa buku ini asyik untuk dibaca. Kesan yang agak berat memang akan membuat pembaca-pembaca yang tidak ingin terlalu banyak berpikir kurang tertarik untuk membacanya. Padahal, buku ini bahasanya bahasa anak muda yang masih menghargai kebakuan bahasa, sehingga kalangan remaja dewasa 17-35 tahun dapat mengikutinya dengan baik.Namun yang jelas, buku ini dapat menjadi selingan dan teman minum kopi saat sore hari dan menambah wawasan hati.
Minggu, 07 Agustus 2011
Masa Kecil Master Joe Sandy
Master, Joshua Sandy Taniady, lahir di Subang, 2 April 1973. Ia dibesarkan di keluarga caturwarga yang sederhana. Ia tinggal bersama ayah-ibunya, Eddy Taniady dan Sarah Lolih Suryani dan adik laki-lakinya, Eleazer Roni. Mereka hidup dalam kesederhanaan dan bahagia. Kadang-kadang, ayah Joe kecil membawa Joe berkeliling sekitar rumahnya dengan sepeda motornya untuk menghibur Joe. Namun, kebahagiaan keluarga ini sempat hancur ketika Pak Eddy Taniady meninggalkan istri dan anak-anaknya, ketika Joe Sandy masih berusia 4 tahun, dalam serangan penyakit darah tingginya. Adiknya bahkan belum sempat mengenali wajah ayahnya.
Kehilangan tonggak rumah tangga, tidak serta-merta membuat keluarga ini jatuh terpuruk. Ibu Joe mempunyai keahlian dalam jahit-menjahit,sehingga beliau mulai menerima pesanan. Jadi, semasa kanak-kanaknya, sepulang sekolah, Joe kecil membantu ibunya membongkar jahitan yang salah, memasangkan kancing, mengukur lebar dan panjang kain. Mungkin kebiasaannya mengukur ini membuatnya mulai mencintai angka. Dari hasil keterampilan tangan Ibu Joe ini, mereka menggantungkan kebutuhan hidup sehari-hari.
Akan tetapi, Ibu Joe mempunyai penyakit jantung lemah sehingga kadang-kadang beliau pingsan, jatuh sakit, sehingga tidak dapat menerima pesanan. Pernah, saking sepinya pesanan baju, keluarga ini makan dengan lauk sebutir telur dibagi tiga. Sekali waktu, mereka kehabisan beras sehingga Joe harus membuka tabungannya yang hanya berjumlah Rp 3000,- saja untuk membeli beras, sehingga hari itu mereka bisa makan.
Karena pekerjaan jahitan memiliki tenggat waktu, sering Ibu Joe harus mengantarkan jahitan pada malam hari ke tempat tinggal para pemesan. Joe tidak tega membiarkan ibunya berjalan malam-malam sendirian, tanpa ada yang menemani. Joe memaksakan diri untuk ikut dengan ibunya, namun dilarang hingga pintu rumahnya dikunci hingga Joe tidak bisa keluar dari rumahnya dan mengikuti ibunya.
Bayangkan ini... Joe kecil yang tidak kehabisan akal, melompat dari jendela dan memanjat atap agar bisa bebas dari rumahnya untuk mengawasi mamanya, menjaga mamanya tercinta... Ketika akhirnya perbuatan Joe ketahuan, Ibu Joe menyerah dan akhirnya memperbolehkan Joe untuk ikut mengantarkan pesanan.
Ibu Joe sungguh merupana sosok yang tangguh dan penuh kasih sayang. Bagaimana tidak? Beliau lelah, berjuang mati-matian kerja keras di depan mesin jahit untuk menyekolahkan kedua anaknya, masih menyempatkan diri setiap malam untuk menceritakan dongeng-dongeng, fabel-fabel, untuk membuai Joe dan Roni adiknya. Satu pesan Ibu Joe yang selalu diingat: selalu bersiap-siap, prepare, seperti unta yang minum air banyak-banyak untuk perjalanan jauh nantinya, jangan seperti manusia dengan hati kosong menimbun harta sebanyaknya di gudang. Dan banyak lagi petuah-petuah lainnya agar kedua anaknya dapat menjadi orang berguna di masa depan.
Sayang sekali, Ibu Joe tidak dapat melihat putra sulungnya sungguh telah menjadi The Master sejati dan telah membanggakan banyak orang, karena beliau dipanggil Tuhan untuk meninggalkan kedua putranya pada bulan Maret 2006 lalu...
Semoga dari atas sana, Ibu Sarah Lolih Suryani dapat melihat putranya—yang dulu bersikeras untuk ikut dengannya mengantar pesanan, yang dulu berusaha untuk menggantikan sosok ayah yang hilang dengan menjaga ibu dan adiknya, telah meraih prestasi yang amat tinggi, dan telah menjadi kebanggaan kita semua. Amin...
***
Masuk SMA, Joe mulai mahir memainkan bakat sulapnya. Ia pamerkan keterampilannya pada teman-teman sekelasnya. Keterampilan ini didengar orang-orang sehingga Joe mulai sering mendapat undangan mengisi acara ultah.
Lulus SMA, Joe mengambil D1 Komputer Perbankan agar bisa cepat kerja untuk membiayai kuliah adiknya dan kebutuhan hidup. Namun Joe juga mengejar ketertinggalannya dengan banyak membaca dan belajar filsafat dan akhirnya mendapat pekerjaan sampingan, yaitu membuatkan skripsi S1. Setelah lulus D1, Joe bekerja di sebuah bank swasta. Kecakapannya magic-nya didengar juga oleh teman-teman sekantor, sehingga ia sering didaulat untuk mengisi acara kantor.
Suatu ketika, Master Joe mengikuti “Bandung Magic Competition” di Sasana Budaya Ganesha Bandung. Di sana ia bertemu Master Deddy Corbuzier sebagai juri kompetisi tersebut dan mendapatkan juara 1. Sadarkah mereka, di masa depan nanti, mereka akan bertemu lagi dalam ajang kompetisi yang lebih bergengsi dengan peran yang sama: The Master RCTI, Deddy sebagai juri, Joe sebagai peserta, dan Joe kembali menjadi juara 1?
Suatu kebetulan? Satu minggu kemudian, setelah kompetisi itu berakhir, adik Master Joe, Eleazer Roni juga diwisuda di gedung yang sama dan menduduki kursi yang sama dengan yang diduduki Master Joe minggu lalu. Kebetulan lagi? Rasanya tidak karena Tuhan telah menggariskan jalan hidup dan rencana terindah yang mungkin akan mengejutkan kita manusia.
Dua puluh tahun yang lalu, ketika RCTI mulai mengudara dan mewarnai layar kaca Indonesia, Joe Sandy mempunyai impian untuk dapat tampil di RCTI. Ia meragu, apakah mungkin impiannya bisa terwujud? Ternyata impian itu terwujud! Tuhan Mahatahu. Tuhan mengerti, Tuhan memahami, Tuhan peduli. Perjuangan Joe Sandy di masa lalunya dibayar tuntas dan lunas. Setiap pengorbanan, kepedihan dan kerja kerasnya, dibalas-Nya dengan menganugerahi Joe Sandy dengan gelar The Next Master of Magic.
“Allah memeluk mimpi-mimpiku dan menjadikannya....”—Sang Pemimpi, Andrea Hirata.
(^_^)
So, keep dreaming!!!
Sumber: Majalah Aneka Yess! No. 11 edisi 25 Mei - 7 Juni 2009
Kehilangan tonggak rumah tangga, tidak serta-merta membuat keluarga ini jatuh terpuruk. Ibu Joe mempunyai keahlian dalam jahit-menjahit,sehingga beliau mulai menerima pesanan. Jadi, semasa kanak-kanaknya, sepulang sekolah, Joe kecil membantu ibunya membongkar jahitan yang salah, memasangkan kancing, mengukur lebar dan panjang kain. Mungkin kebiasaannya mengukur ini membuatnya mulai mencintai angka. Dari hasil keterampilan tangan Ibu Joe ini, mereka menggantungkan kebutuhan hidup sehari-hari.
Akan tetapi, Ibu Joe mempunyai penyakit jantung lemah sehingga kadang-kadang beliau pingsan, jatuh sakit, sehingga tidak dapat menerima pesanan. Pernah, saking sepinya pesanan baju, keluarga ini makan dengan lauk sebutir telur dibagi tiga. Sekali waktu, mereka kehabisan beras sehingga Joe harus membuka tabungannya yang hanya berjumlah Rp 3000,- saja untuk membeli beras, sehingga hari itu mereka bisa makan.
Karena pekerjaan jahitan memiliki tenggat waktu, sering Ibu Joe harus mengantarkan jahitan pada malam hari ke tempat tinggal para pemesan. Joe tidak tega membiarkan ibunya berjalan malam-malam sendirian, tanpa ada yang menemani. Joe memaksakan diri untuk ikut dengan ibunya, namun dilarang hingga pintu rumahnya dikunci hingga Joe tidak bisa keluar dari rumahnya dan mengikuti ibunya.
Bayangkan ini... Joe kecil yang tidak kehabisan akal, melompat dari jendela dan memanjat atap agar bisa bebas dari rumahnya untuk mengawasi mamanya, menjaga mamanya tercinta... Ketika akhirnya perbuatan Joe ketahuan, Ibu Joe menyerah dan akhirnya memperbolehkan Joe untuk ikut mengantarkan pesanan.
Ibu Joe sungguh merupana sosok yang tangguh dan penuh kasih sayang. Bagaimana tidak? Beliau lelah, berjuang mati-matian kerja keras di depan mesin jahit untuk menyekolahkan kedua anaknya, masih menyempatkan diri setiap malam untuk menceritakan dongeng-dongeng, fabel-fabel, untuk membuai Joe dan Roni adiknya. Satu pesan Ibu Joe yang selalu diingat: selalu bersiap-siap, prepare, seperti unta yang minum air banyak-banyak untuk perjalanan jauh nantinya, jangan seperti manusia dengan hati kosong menimbun harta sebanyaknya di gudang. Dan banyak lagi petuah-petuah lainnya agar kedua anaknya dapat menjadi orang berguna di masa depan.
Sayang sekali, Ibu Joe tidak dapat melihat putra sulungnya sungguh telah menjadi The Master sejati dan telah membanggakan banyak orang, karena beliau dipanggil Tuhan untuk meninggalkan kedua putranya pada bulan Maret 2006 lalu...
Semoga dari atas sana, Ibu Sarah Lolih Suryani dapat melihat putranya—yang dulu bersikeras untuk ikut dengannya mengantar pesanan, yang dulu berusaha untuk menggantikan sosok ayah yang hilang dengan menjaga ibu dan adiknya, telah meraih prestasi yang amat tinggi, dan telah menjadi kebanggaan kita semua. Amin...
***
Masuk SMA, Joe mulai mahir memainkan bakat sulapnya. Ia pamerkan keterampilannya pada teman-teman sekelasnya. Keterampilan ini didengar orang-orang sehingga Joe mulai sering mendapat undangan mengisi acara ultah.
Lulus SMA, Joe mengambil D1 Komputer Perbankan agar bisa cepat kerja untuk membiayai kuliah adiknya dan kebutuhan hidup. Namun Joe juga mengejar ketertinggalannya dengan banyak membaca dan belajar filsafat dan akhirnya mendapat pekerjaan sampingan, yaitu membuatkan skripsi S1. Setelah lulus D1, Joe bekerja di sebuah bank swasta. Kecakapannya magic-nya didengar juga oleh teman-teman sekantor, sehingga ia sering didaulat untuk mengisi acara kantor.
Suatu ketika, Master Joe mengikuti “Bandung Magic Competition” di Sasana Budaya Ganesha Bandung. Di sana ia bertemu Master Deddy Corbuzier sebagai juri kompetisi tersebut dan mendapatkan juara 1. Sadarkah mereka, di masa depan nanti, mereka akan bertemu lagi dalam ajang kompetisi yang lebih bergengsi dengan peran yang sama: The Master RCTI, Deddy sebagai juri, Joe sebagai peserta, dan Joe kembali menjadi juara 1?
Suatu kebetulan? Satu minggu kemudian, setelah kompetisi itu berakhir, adik Master Joe, Eleazer Roni juga diwisuda di gedung yang sama dan menduduki kursi yang sama dengan yang diduduki Master Joe minggu lalu. Kebetulan lagi? Rasanya tidak karena Tuhan telah menggariskan jalan hidup dan rencana terindah yang mungkin akan mengejutkan kita manusia.
Dua puluh tahun yang lalu, ketika RCTI mulai mengudara dan mewarnai layar kaca Indonesia, Joe Sandy mempunyai impian untuk dapat tampil di RCTI. Ia meragu, apakah mungkin impiannya bisa terwujud? Ternyata impian itu terwujud! Tuhan Mahatahu. Tuhan mengerti, Tuhan memahami, Tuhan peduli. Perjuangan Joe Sandy di masa lalunya dibayar tuntas dan lunas. Setiap pengorbanan, kepedihan dan kerja kerasnya, dibalas-Nya dengan menganugerahi Joe Sandy dengan gelar The Next Master of Magic.
“Allah memeluk mimpi-mimpiku dan menjadikannya....”—Sang Pemimpi, Andrea Hirata.
(^_^)
So, keep dreaming!!!
Sumber: Majalah Aneka Yess! No. 11 edisi 25 Mei - 7 Juni 2009
Minggu, 17 Juli 2011
Are you a Scientist or a Social Person?
Hey, 10th graders! Are you still confused by what class will you take next year? Do you have business with Physics, Biology, Chemistry, or Math? Or do you feel comfortable with Sociology, Geography, Economy, Accounting, or even History? Or you, seniors! Maybe you feel that what you take now isn’t the real you?
c. The History of Borobudur Temple.
2) It’s the 2nd study time. The Sephos crew are working together making decorations for the school event. What will you do?
a. My math homework isn’t done!
b. Help the Sephoz crew, I’m done with Accounting…
c. Sephos? That’s their business. I’ll just take a chat with my friends.
3) What is your most favourite shape!
a. ○
b. ∆
c. □
Ready? Now you can count it like this:
Scores: 1) a=20 , b=10 , c=30.
2) a=10 , b=30 , c=20.
3) a=30 , b=10 , c= 20.
Count your scores and see the result!
30 – 40: The Natural Scientist.
You are truly a scientist. You are clever and diligent, but you didn’t give enough attention to your friends and the people around you. Sometimes, just leave that chemistry book and chat with your friends.
50 – 60: Social Scientist.
You are a mix of social soul and natural scientific brain. You can be a dentist which also becomes a broadcaster like Nita Thalisa, or surgeon that sings like Tompi. It’s up to you, use your brain and follow your heart.
70 – 90: Social Person.
The social soul is in you. You can be a politician, an economist, or even an artist! You are very adaptable to your surroundings and have flocks of friends. But don’t forget to take care of yourself and study, ok?
Are you still confused? Well, no matter. Above all, choose your love and love your choice. Like what you do and do what you like. It’s impossible to skip choices, but then again, follow your heart and use your brain, and ask others for advice. Do the best! (Dee, Edu)
Jurnalistik Van Lith Divisi Bahasa Inggris: Nimzo
Well, you must try this quiz! It’s just 3 simple questions with 3 choices. Ready? Here we go!
1) You’ll be Interested by seeing:
a. A news that Justin Bieber is going to Indonesia
b. X2-6x+9=0 Wow, piece of cake!c. The History of Borobudur Temple.
2) It’s the 2nd study time. The Sephos crew are working together making decorations for the school event. What will you do?
a. My math homework isn’t done!
b. Help the Sephoz crew, I’m done with Accounting…
c. Sephos? That’s their business. I’ll just take a chat with my friends.
3) What is your most favourite shape!
a. ○
b. ∆
c. □
Ready? Now you can count it like this:
Scores: 1) a=20 , b=10 , c=30.
2) a=10 , b=30 , c=20.
3) a=30 , b=10 , c= 20.
Count your scores and see the result!
30 – 40: The Natural Scientist.
You are truly a scientist. You are clever and diligent, but you didn’t give enough attention to your friends and the people around you. Sometimes, just leave that chemistry book and chat with your friends.
50 – 60: Social Scientist.
You are a mix of social soul and natural scientific brain. You can be a dentist which also becomes a broadcaster like Nita Thalisa, or surgeon that sings like Tompi. It’s up to you, use your brain and follow your heart.
70 – 90: Social Person.
The social soul is in you. You can be a politician, an economist, or even an artist! You are very adaptable to your surroundings and have flocks of friends. But don’t forget to take care of yourself and study, ok?
Are you still confused? Well, no matter. Above all, choose your love and love your choice. Like what you do and do what you like. It’s impossible to skip choices, but then again, follow your heart and use your brain, and ask others for advice. Do the best! (Dee, Edu)
Jurnalistik Van Lith Divisi Bahasa Inggris: Nimzo
Mindset Breakers
Here are the important people who lived during the Renaissance. They had found many new methods and theories that was very radical back then. They discovered new laws of science and gave new meanings to art. These four people had countered wrong perceptions, fixed misunderstandings and help to shape the world as we know today. Who are they, and what did they do? Let’s check it out!
Leonardo Da Vinci
Who hasn’t heard of him? Dan Brown’s Novel, which has been brought to a movie, The Da Vinci code, has made Da Vinci more popular than before. Da Vinci is known as a painter, but he is also a scientist, engineer, botanist and even a musician! He’s the first person to operate a human body surgically. He had even already thought about the possibility of a flying transportation! He had so many brilliant ideas, but didn’t give his focus on one particular idea and died. He only left paintings, but really incredible ones, such as the popular Monalisa, Madonna on the Rocks, and The Last Supper, which is now, unfortunately, in a concerning condition.
Nicholas Copernicus
He lived in Poland during the 16th century. The son of a rich trader, he once thought of being a Priest. But he is more interested in astronomy, math, law and medic, which made him to change tides and become a scientist instead. One day, he found that Geocentric, the perception that says earth is the center of the solar system, is absolutely wrong. He found out that the sun is the axis of the solar system; which will be called Heliocentric later. This new idea is rejected by the Catholic Church based by the bible. In 1616, 73 years after Copernicus’ death, the church declared that his book about Heliocentric is deviate. Yet finally, after two centuries, the church finally took back the statement and approves Copernicus’ theory.
Galileo Galilei
21 years after Copernicus’ death, Galileo was born in Pisa, Italy. He was the first son of six siblings. His father was a musician and a scientist. He had been to the monastery to be a monk for some time, but due to his family’s economic condition, his father told him to get a job and help the family. So he went to the University of Pisa and learnt Pharmacy. Besides that, he also studied math and astronomy. In the age of 25, he had already been a math professor in the University of Pisa. One day, he invented a machine that can help us look over long distances. He called it the “Telescope”. When he looked from his telescope, he found out that Jupiter is revolved by its 4 moons. This made him believe the theory of Copernicus and supports it by his discovery. And just like what they did to Copernicus, the Church decided that Galileo was deviate and held him in a prison for the rest of his life. He died in his prison cell by the age of 77.
William Shakespeare
Who doesn’t know about the famous drama, Romeo and Juliet? It was created by William Shakespeare. William Shakespeare was born in 1564 in Stratford-Upon-Avon, Warwickshire, England. When he was 18, he married Anne Hathaway, which was 18 years older than him. They had 3 children, Susannah, and the twins, Hammet and Judith. Unfortunately, Hammet died in the age of 11 because of her sickness. Nobody knew his job when he was in the age of 20, but in 1592, he became an actor and a scriptwriter in Lord Chamberlain’s Men, a theatre company. Seven years after his death in 1616, his friends published Shakespeare’s drama collection, in 1 book. It contains 37 of Shakespeare’s drama scripts, such as the famous Romeo and Juliet, Hamlet, Macbeth, and Othello. His drama scripts, Julius Caesar and Anthony and Cleopatra uncovered the dark Roman History.
These are the people who had given their contribution to the world. Now it’s our turn to expand the knowledge from them to build the better world. To make this world not only a modern, but a better place to live. (Dee, Edu)
Source: Student’s Oxford Encyclopedia
Jurnalistik Van Lith Divisi Bahasa Inggris: Nimzo
Laporan OPP
OPP Solo: Penyiar Berita Televisi (TATV)
5-11 Juni 2011
Oleh: Stephanie Putri Diasti / XII A2
Laporan Catatan Harian
Hari Pertama: 5 Juni 2011
Hari itu akhirnya kami sampai di kota Solo. Kami sampai di Solo sekitar jam 10.00 pagi. Kami langsung disambut di kampus SMP PL Bintang Laut Surakarta oleh para orangtua murid, baik yang sudah alumni, maupun yang masih bersekolah di SMA PL Van Lith. Kami pun diberi briefing oleh para orangtua murid, bagaimana kami “bertahan hidup” di kota Solo. Banyak wejangan yang mereka berikan, yang berguna bagi kami, baik selama OPP maupun di kehidupan kami kelak.
Setelah itu kami diantar oleh orangtua murid ke rumah orangtua asuh kami masing-masing. Saya bersama Dipna segera diantar ke daerah Mojosongo. Kami berdua ternyata satu rumah, dan Ganang yang juga OPP di TATV tinggal di rumah orangtua murid. Kami tinggal di rumah Pak Sutarso. Beliau bukan orangtua murid, namun rumah beliau sering ditempati oleh anak-anak Van Lith yang OPP di Solo.
Hari itu kami hanya berdinamika dengan orang-orang rumah saja. Besoknya, hari Senin (6/6) baru lah kami ke TATV untuk mulai belajar. Kami mengetahui bahwa Bapak dan Ibu Sutarso mempunyai tiga orang anak. Mbak Ella, sudah menikah, sekarang mengajar di Semarang. Mas Akuh juga sudah kerja di Semarang, dan yang terakhir Mbak Magda, sudah menikah dan bekerja di Solo.
Keluarga Pak Sutarso sangat hangat dan menyenangkan. Mereka adalah orang-orang Katolik yang taat. Terlihat saat makan bersama, pasti mengawali dan mengakhiri dengan doa. Bahkan kami diajak untuk ikut memimpin doa, juga ikut doa bersama di lingkungan. Tentu kami ikut ajakan mereka. Tiap pulang dari TATV, kami segera mandi dan ikut kegiatan di lingkungan.
Hari Kedua: 6 Juni 2011
Hari ini kami mulai berangkat ke TATV. Kami mendapat instruksi untuk datang ke TATV jam 8 pagi. Maka kami sudah siap di TATV jam 8. Begitu datang ternyata kami diminta untuk menunggu. Pertama-tama kami ditemui oleh manajer dari TATV. Ternyata kami ditawari untuk mengikuti audisi Presenter di Solo Square, pada hari Sabtu (9/6). Karena hanya saya yang berniat untuk menjadi Presenter, maka saya yang akhirnya menyanggupi tawaran tersebut.
Beberapa selang waktu kemudian, kami bertemu dengan Manager HRD TATV. Kami dijelaskan kalau nanti kami akan dibimbing oleh salah satu produser bagian News. Beliau adalah Mas Widi. Kami juga diperkenalkan oleh asistennya yaitu Mbak Tika. Mereka menjelaskan kami bagaimana proses pencarian berita oleh wartawan, sampai akhirnya diterima oleh pemirsa di rumah.
Demikian bagan News Production di Televisi:
Diagram 1. Produksi Berita Televisi
Dari diagram tersebut dapat disimpulkan bahwa tugas-tugas presenter adalah sebagai berikut:
Voice Over (merekam pembacaan berita untuk dijadikan latar video berita)
Membacakan Lead berita untuk pemirsa.
Melayani pemirsa kalau ada telepon interaktif.
Mewawancarai ketika kedatangan narasumber.
Membawakan acara berita dengan baik.
Saya juga diberitahu syarat-syarat untuk menjadi Presenter oleh Mas Widi dan Mbak Tika:
Dapat membaca berita dalam intonasi yang tepat, dan tempo yang cepat.
Mempunyai suara yang jernih dan bagus, juga tegas.
Saat acara berita berlangsung dapat membawakan acara dengan senyum dan santai.
Berpenampilan bersih, rapi, smart, dan menarik.
Pada hari itu juga saya mendapat kesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan Mas Henry, salah satu presenter TATV. Ia membawakan “Kabar Gasik”, semacam “Breaking News” yang ditayangkan setiap jam dari pukul 10.00-13.00. Ternyata dia baru satu bulan bekerja sebagai presenter di TATV, jadi ia mengaku masih baru dalam dunia pertelevisian. Namun, ia sudah lama menjadi announcer di radio, sehingga ia sudah terlatih untuk berbicara cepat dan jelas. Memang biasanya sebelum menjadi presenter televisi, kebanyakan para presenter berkarya dahulu di radio, barulah terjun ke televisi.
Saya bertanya kepadanya bagaimana cara membangun percaya diri untuk dapat tampil di televisi. Katana kita harus bisa menganggap kritik sebagai teman dan jadi masukan yang bagus untuk kita untuk menjadi lebih baik. Kita juga baiknya tampil apa adanya saja, penampilan tidak usah terlalu menor atau mewah, karena kalau kita punya talenta dan mau mengembangkannya, pasti kita bisa menjadi presenter yang baik.
Mas Henry juga mengajari saya untuk memperhatikan kata-kata inti pada kalimat. Karena pada kata-kata itulah, penekanan intonasi dan nada saat pembacaan berita dilakukan. Misalnya pada kalimat, “Banjir kanal datang dari Bogor Sabtu malam ke Jakarta.” Penenkanannya menjadi seperti ini, “BANJIR kanal datang dari BOGOR Sabtu malam ke JAKARTA.” Jadi bisa dibilang kalau kata-kata inti di sini maksudnya adalah kata-kata yang sekiranya menarik bagi pemirsa. Kata-kata penjelas yang akan membuat pemirsa mengerti akan berita yang disampaikan, meskipun pemirsa hanya mendengar sekilas-sekilas.
Hari Ketiga, 7 Juni 2011
Hari ini saya bertemu dengan presenter wanita, namanya Mbak Arin. Ia adalah presenter berita kriminal yang programnya dinamakan “Kecrek”, tayangnya setiap sore. Ia menjelaskan bagaimana sikap tubuh yang baik saat membacakan berita di depan kamera.
• Sikap tubuh harus tegak dan tegap saat di depan kamera. Tidak bungkuk agar tidak dianggap rendah diri, tidak terlalu tegap untuk agar tidak dianggap menantang.
• Saat membacakan berita sambil duduk, pundak bisa bebas bergerak-gerak untuk menggerakkan tangan, sehingga presenter dapat lebih ekspresif dalam menyampaikan berita.
• Saat membacakan berita sambil berdiri, yang bergerak cukup lengan bawah saja.
• Mimik wajah yang digunakan saat menyampaikan berita:
o Gembira/berita ringan: senyum
o Duka/berita bencana: mata sedih
o Serius/ berita yang tidak biasa (misalnya berita kembar siam): dahi berkerut-kerut
Lalu hari itu saya diajak Mas Widi untuk mencoba Voice Over. Dari hasil rekaman suara saya, Mas Widi berkomentar bahwa dengan lebih banyak berlatih, saya dapat membacakan berita dengan baik. Saya butuh latihan untuk menjaga nada suara untuk tetap datar, karena pada pembacaan berita tidak dibutuhkan suara dengan nada yang terlalu variatif.
Hari Keempat: 8 Juni 2011
Saya bertemu dan dimentori lagi oleh Mbak Arin hari ini. Saya diajaknya untuk VO dan siberi tips-tips agar pembacaan yang dihasilkan dapat bagus dan diterima pemirsa dengan baik. Sebetulnya cara membaca suatu berita itu berbeda-beda, tergantung jenis berita yang dibacakan. Berikut cara-cara membaca berita, dibedakan menurut jenis berita yang akan dibacakan.
Straight News (berita serius): cepat, tegas, rata.
Soft News (kabar baik/berita gembira): nada membaca boleh lebih bervariasi pada kata-kata yang butuh penekanan.
Feature (humaniora): pembacaan boleh dilebih-lebihkan.
Mbak Arin juga memberikan penjelasan mengenai riasan yang dipakai presenter untuk tampil di TV. Make up yang digunakan memang tebal, berhubung lighting yang luar biasa di studio chromacy (studio dengan latar belakang hijau untuk di-edit sesuai keinginan). Kalau terlalu tipis, nanti di kamera tidak kelihatan. Baju yang digunakan juga yang rapid an aksesoris yang digunakan tidak usah terlalu mencolok.
Hari Kelima: 9 Juni 2011
Hari ini cukup istimewa, karena kami diajak untuk siaran secara off-air di Balai Kota Surakarta. Ternyata untuk siaran off-air seperti itu butuh bus yang memuat alat-alat pemancar untuk diterima studio TV. Sembari menunggu waktu siaran, saya sempat ngobrol-ngobrol dengan Mas Seno, presenter yang bertugas hari itu. Ia memberikan saya hal-hal yang dapat dijalani untuk membawakan acara berita off-air tanpa prompter.
1. Berusaha untuk tenang dan fokus sehingga bisa konsentrasi, meskipun suasana tidak setenang seperti biasanya di studio.
2. Wajib menatap kepada pemirsa (kamera) pada saat opening, closing, akhir Lead berita, dan pengantar sebelum jeda iklan.
Mas Seno juga mengajarkan susunan opening, closing dan teasing sebelum iklan:
OPENING: [SALAM]/// [INTI ACARA]/// [NAMA PRESENTER]/// [NAMA ACARA]///
CLOSING: [WAKTU SUDAH SELESAI]/// [UCAPAN TERIMA KASIH]/// [NAMA PRESENTER]/// [NAMA ACARA]///
TEASING: [JUDUL BERITA SELANJUTNYA]/// [PENGANTAR IKLAN]///
Hari Keenam: 10 Juni 2011
Hari ini saya mengikuti Presenter Hunt yang waktu itu saya sanggupi. Saya ke Solo Square diantar oleh PAVALI Solo 18. Saya sudah berusaha sebisa saya, namun memang untuk riasan saya tidak mempersiapkan secara matang. Jadi saya tidak mendapat apa-apa dalam kompetisi tersebut. Namun saya mendapat pengalaman membacakan berita di depan kamera, langsung dan ditonton oleh banyak orang. Ternyata membutuhkan kepercayaan diri yang tinggi dan konsentrasi yang luar biasa.
Pertanyaan-pertanyaan Reflektif
1. Apakah saudara sudah menemukan panggilan hidup dari banyak pilihan untuk masa depan?
Ya, saya sudah menemukan panggilan hidup saya.
2. Bila sudah, bidang profesi apa yang menjadi panggilan hidup saudara?
Saya berencana untuk bekerja di bidang komunikasi, terutama dunia Broadcasting. Banyak pilihan pekerjaan di bidang tersebut, namun saya paling tertarik untuk menjadi Presenter Berita.
3. Bila belum, apa yang... (tidak perlu dijawab)
4. Apakah yang sudah saudara siapkan dan yang akan disiapkan untuk menjawab panggilan atau cita-cita saudara tersebut?
Saya sudah dua kali ikut lomba Presenter Berita. Meskipun belum pernah berhasil menjadi juara, namun saya bisa dibilang sudah punya bekal pengalaman dan pengetahuan. Saya juga konsisten dalam memilih bidang OPP yang dulu saya ikuti yaitu Presenter Berita. Saya merasa sudah cukup pengalaman itu untuk sekarang. Nanti saya akan kuliah Ilmu Komunikasi untuk memperdalam ilmu mengenai bidang ini dan akan banyak magang di berbagai stasiun televisi.
5. Hal-hal apa yang mendorong untuk menggeluti panggilan hidup yang saudara temukan tersebut?
Kecintaan saya terhadap media dan keinginan saya untuk mengedukasi masyarakat lewat informasi mendorong saya untuk menggeluti profesi sebagai awak media, khususnya Presenter Berita
6. Apakah panggilan hidup atau cita-cita saudara tersebut berguna bagi hidup masyarakat? Jelaskan jawaban saudara.
Cita-cita saya ini berguna bagi orang-orang yang membutuhkan informasi secara cepat mengenai isu-isu publik.
7. Apakah saudara menemukan informasi dan fakta yang menguatkan panggilan profesi saudara di masa yang akan datang, ataukah justru sebaliknya?
Saya diberitahu oleh orang TATV kalau modal suara saya sudah cukup bagus, tinggal mengembangkannya saja. Saya sebetulnya waktu lomba presenter di Jogja sempat masuk semifinal, namun karena bencana Merapi, saya terpaksa pulang ke Bekasi dan tidak dapat melanjutkan lomba tersebut. Pada dasarnya saya orangnya suka ngomong dan cukup berani untuk tampil di depan banyak orang. Saya yakin apabila saya berusaha, saya mampu untuk mencapai impian saya ini.
Source: http://dizftrq.blogspot.com/
5-11 Juni 2011
Oleh: Stephanie Putri Diasti / XII A2
Laporan Catatan Harian
Hari Pertama: 5 Juni 2011
Hari itu akhirnya kami sampai di kota Solo. Kami sampai di Solo sekitar jam 10.00 pagi. Kami langsung disambut di kampus SMP PL Bintang Laut Surakarta oleh para orangtua murid, baik yang sudah alumni, maupun yang masih bersekolah di SMA PL Van Lith. Kami pun diberi briefing oleh para orangtua murid, bagaimana kami “bertahan hidup” di kota Solo. Banyak wejangan yang mereka berikan, yang berguna bagi kami, baik selama OPP maupun di kehidupan kami kelak.
Setelah itu kami diantar oleh orangtua murid ke rumah orangtua asuh kami masing-masing. Saya bersama Dipna segera diantar ke daerah Mojosongo. Kami berdua ternyata satu rumah, dan Ganang yang juga OPP di TATV tinggal di rumah orangtua murid. Kami tinggal di rumah Pak Sutarso. Beliau bukan orangtua murid, namun rumah beliau sering ditempati oleh anak-anak Van Lith yang OPP di Solo.
Hari itu kami hanya berdinamika dengan orang-orang rumah saja. Besoknya, hari Senin (6/6) baru lah kami ke TATV untuk mulai belajar. Kami mengetahui bahwa Bapak dan Ibu Sutarso mempunyai tiga orang anak. Mbak Ella, sudah menikah, sekarang mengajar di Semarang. Mas Akuh juga sudah kerja di Semarang, dan yang terakhir Mbak Magda, sudah menikah dan bekerja di Solo.
Keluarga Pak Sutarso sangat hangat dan menyenangkan. Mereka adalah orang-orang Katolik yang taat. Terlihat saat makan bersama, pasti mengawali dan mengakhiri dengan doa. Bahkan kami diajak untuk ikut memimpin doa, juga ikut doa bersama di lingkungan. Tentu kami ikut ajakan mereka. Tiap pulang dari TATV, kami segera mandi dan ikut kegiatan di lingkungan.
Hari Kedua: 6 Juni 2011
Hari ini kami mulai berangkat ke TATV. Kami mendapat instruksi untuk datang ke TATV jam 8 pagi. Maka kami sudah siap di TATV jam 8. Begitu datang ternyata kami diminta untuk menunggu. Pertama-tama kami ditemui oleh manajer dari TATV. Ternyata kami ditawari untuk mengikuti audisi Presenter di Solo Square, pada hari Sabtu (9/6). Karena hanya saya yang berniat untuk menjadi Presenter, maka saya yang akhirnya menyanggupi tawaran tersebut.
Beberapa selang waktu kemudian, kami bertemu dengan Manager HRD TATV. Kami dijelaskan kalau nanti kami akan dibimbing oleh salah satu produser bagian News. Beliau adalah Mas Widi. Kami juga diperkenalkan oleh asistennya yaitu Mbak Tika. Mereka menjelaskan kami bagaimana proses pencarian berita oleh wartawan, sampai akhirnya diterima oleh pemirsa di rumah.
Demikian bagan News Production di Televisi:
Diagram 1. Produksi Berita Televisi
Dari diagram tersebut dapat disimpulkan bahwa tugas-tugas presenter adalah sebagai berikut:
Voice Over (merekam pembacaan berita untuk dijadikan latar video berita)
Membacakan Lead berita untuk pemirsa.
Melayani pemirsa kalau ada telepon interaktif.
Mewawancarai ketika kedatangan narasumber.
Membawakan acara berita dengan baik.
Saya juga diberitahu syarat-syarat untuk menjadi Presenter oleh Mas Widi dan Mbak Tika:
Dapat membaca berita dalam intonasi yang tepat, dan tempo yang cepat.
Mempunyai suara yang jernih dan bagus, juga tegas.
Saat acara berita berlangsung dapat membawakan acara dengan senyum dan santai.
Berpenampilan bersih, rapi, smart, dan menarik.
Pada hari itu juga saya mendapat kesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan Mas Henry, salah satu presenter TATV. Ia membawakan “Kabar Gasik”, semacam “Breaking News” yang ditayangkan setiap jam dari pukul 10.00-13.00. Ternyata dia baru satu bulan bekerja sebagai presenter di TATV, jadi ia mengaku masih baru dalam dunia pertelevisian. Namun, ia sudah lama menjadi announcer di radio, sehingga ia sudah terlatih untuk berbicara cepat dan jelas. Memang biasanya sebelum menjadi presenter televisi, kebanyakan para presenter berkarya dahulu di radio, barulah terjun ke televisi.
Saya bertanya kepadanya bagaimana cara membangun percaya diri untuk dapat tampil di televisi. Katana kita harus bisa menganggap kritik sebagai teman dan jadi masukan yang bagus untuk kita untuk menjadi lebih baik. Kita juga baiknya tampil apa adanya saja, penampilan tidak usah terlalu menor atau mewah, karena kalau kita punya talenta dan mau mengembangkannya, pasti kita bisa menjadi presenter yang baik.
Mas Henry juga mengajari saya untuk memperhatikan kata-kata inti pada kalimat. Karena pada kata-kata itulah, penekanan intonasi dan nada saat pembacaan berita dilakukan. Misalnya pada kalimat, “Banjir kanal datang dari Bogor Sabtu malam ke Jakarta.” Penenkanannya menjadi seperti ini, “BANJIR kanal datang dari BOGOR Sabtu malam ke JAKARTA.” Jadi bisa dibilang kalau kata-kata inti di sini maksudnya adalah kata-kata yang sekiranya menarik bagi pemirsa. Kata-kata penjelas yang akan membuat pemirsa mengerti akan berita yang disampaikan, meskipun pemirsa hanya mendengar sekilas-sekilas.
Hari Ketiga, 7 Juni 2011
Hari ini saya bertemu dengan presenter wanita, namanya Mbak Arin. Ia adalah presenter berita kriminal yang programnya dinamakan “Kecrek”, tayangnya setiap sore. Ia menjelaskan bagaimana sikap tubuh yang baik saat membacakan berita di depan kamera.
• Sikap tubuh harus tegak dan tegap saat di depan kamera. Tidak bungkuk agar tidak dianggap rendah diri, tidak terlalu tegap untuk agar tidak dianggap menantang.
• Saat membacakan berita sambil duduk, pundak bisa bebas bergerak-gerak untuk menggerakkan tangan, sehingga presenter dapat lebih ekspresif dalam menyampaikan berita.
• Saat membacakan berita sambil berdiri, yang bergerak cukup lengan bawah saja.
• Mimik wajah yang digunakan saat menyampaikan berita:
o Gembira/berita ringan: senyum
o Duka/berita bencana: mata sedih
o Serius/ berita yang tidak biasa (misalnya berita kembar siam): dahi berkerut-kerut
Lalu hari itu saya diajak Mas Widi untuk mencoba Voice Over. Dari hasil rekaman suara saya, Mas Widi berkomentar bahwa dengan lebih banyak berlatih, saya dapat membacakan berita dengan baik. Saya butuh latihan untuk menjaga nada suara untuk tetap datar, karena pada pembacaan berita tidak dibutuhkan suara dengan nada yang terlalu variatif.
Hari Keempat: 8 Juni 2011
Saya bertemu dan dimentori lagi oleh Mbak Arin hari ini. Saya diajaknya untuk VO dan siberi tips-tips agar pembacaan yang dihasilkan dapat bagus dan diterima pemirsa dengan baik. Sebetulnya cara membaca suatu berita itu berbeda-beda, tergantung jenis berita yang dibacakan. Berikut cara-cara membaca berita, dibedakan menurut jenis berita yang akan dibacakan.
Straight News (berita serius): cepat, tegas, rata.
Soft News (kabar baik/berita gembira): nada membaca boleh lebih bervariasi pada kata-kata yang butuh penekanan.
Feature (humaniora): pembacaan boleh dilebih-lebihkan.
Mbak Arin juga memberikan penjelasan mengenai riasan yang dipakai presenter untuk tampil di TV. Make up yang digunakan memang tebal, berhubung lighting yang luar biasa di studio chromacy (studio dengan latar belakang hijau untuk di-edit sesuai keinginan). Kalau terlalu tipis, nanti di kamera tidak kelihatan. Baju yang digunakan juga yang rapid an aksesoris yang digunakan tidak usah terlalu mencolok.
Hari Kelima: 9 Juni 2011
Hari ini cukup istimewa, karena kami diajak untuk siaran secara off-air di Balai Kota Surakarta. Ternyata untuk siaran off-air seperti itu butuh bus yang memuat alat-alat pemancar untuk diterima studio TV. Sembari menunggu waktu siaran, saya sempat ngobrol-ngobrol dengan Mas Seno, presenter yang bertugas hari itu. Ia memberikan saya hal-hal yang dapat dijalani untuk membawakan acara berita off-air tanpa prompter.
1. Berusaha untuk tenang dan fokus sehingga bisa konsentrasi, meskipun suasana tidak setenang seperti biasanya di studio.
2. Wajib menatap kepada pemirsa (kamera) pada saat opening, closing, akhir Lead berita, dan pengantar sebelum jeda iklan.
Mas Seno juga mengajarkan susunan opening, closing dan teasing sebelum iklan:
OPENING: [SALAM]/// [INTI ACARA]/// [NAMA PRESENTER]/// [NAMA ACARA]///
CLOSING: [WAKTU SUDAH SELESAI]/// [UCAPAN TERIMA KASIH]/// [NAMA PRESENTER]/// [NAMA ACARA]///
TEASING: [JUDUL BERITA SELANJUTNYA]/// [PENGANTAR IKLAN]///
Hari Keenam: 10 Juni 2011
Hari ini saya mengikuti Presenter Hunt yang waktu itu saya sanggupi. Saya ke Solo Square diantar oleh PAVALI Solo 18. Saya sudah berusaha sebisa saya, namun memang untuk riasan saya tidak mempersiapkan secara matang. Jadi saya tidak mendapat apa-apa dalam kompetisi tersebut. Namun saya mendapat pengalaman membacakan berita di depan kamera, langsung dan ditonton oleh banyak orang. Ternyata membutuhkan kepercayaan diri yang tinggi dan konsentrasi yang luar biasa.
Pertanyaan-pertanyaan Reflektif
1. Apakah saudara sudah menemukan panggilan hidup dari banyak pilihan untuk masa depan?
Ya, saya sudah menemukan panggilan hidup saya.
2. Bila sudah, bidang profesi apa yang menjadi panggilan hidup saudara?
Saya berencana untuk bekerja di bidang komunikasi, terutama dunia Broadcasting. Banyak pilihan pekerjaan di bidang tersebut, namun saya paling tertarik untuk menjadi Presenter Berita.
3. Bila belum, apa yang... (tidak perlu dijawab)
4. Apakah yang sudah saudara siapkan dan yang akan disiapkan untuk menjawab panggilan atau cita-cita saudara tersebut?
Saya sudah dua kali ikut lomba Presenter Berita. Meskipun belum pernah berhasil menjadi juara, namun saya bisa dibilang sudah punya bekal pengalaman dan pengetahuan. Saya juga konsisten dalam memilih bidang OPP yang dulu saya ikuti yaitu Presenter Berita. Saya merasa sudah cukup pengalaman itu untuk sekarang. Nanti saya akan kuliah Ilmu Komunikasi untuk memperdalam ilmu mengenai bidang ini dan akan banyak magang di berbagai stasiun televisi.
5. Hal-hal apa yang mendorong untuk menggeluti panggilan hidup yang saudara temukan tersebut?
Kecintaan saya terhadap media dan keinginan saya untuk mengedukasi masyarakat lewat informasi mendorong saya untuk menggeluti profesi sebagai awak media, khususnya Presenter Berita
6. Apakah panggilan hidup atau cita-cita saudara tersebut berguna bagi hidup masyarakat? Jelaskan jawaban saudara.
Cita-cita saya ini berguna bagi orang-orang yang membutuhkan informasi secara cepat mengenai isu-isu publik.
7. Apakah saudara menemukan informasi dan fakta yang menguatkan panggilan profesi saudara di masa yang akan datang, ataukah justru sebaliknya?
Saya diberitahu oleh orang TATV kalau modal suara saya sudah cukup bagus, tinggal mengembangkannya saja. Saya sebetulnya waktu lomba presenter di Jogja sempat masuk semifinal, namun karena bencana Merapi, saya terpaksa pulang ke Bekasi dan tidak dapat melanjutkan lomba tersebut. Pada dasarnya saya orangnya suka ngomong dan cukup berani untuk tampil di depan banyak orang. Saya yakin apabila saya berusaha, saya mampu untuk mencapai impian saya ini.
Source: http://dizftrq.blogspot.com/
Orientasi Panggilan Profesi
Sekarang diz lagi di Solo nih. Diz tinggal di SOLO selama 5-11 Juni ini dalam rangka menjalani Orientasi Panggilan Profesi. Salah satu acara Van Lith yang gak ada habisnya dan aneh-aneh. :"p
Anyway, Orientasi Panggilan Profesi yang biasa disingkat OPP ini gunanya supaya kami anak-anak Van Lith bisa mengerti bagaimana beradaptasi dengan lingkungan kerja tempat kami bakalan kerja. Misalnya temennya diz nih namanya Nandit, kan dia mau jadi novelis, nah, dia ditempatin sama sekolah di Bandung, buat ketemu sama seorang novelis dan ikut si novelis itu ke setiap kegiatan. Asik bener itu si Nandit. Ternyata novelis yang dia tumpangi itu temennya si Luna Torashyngu! Dan... nanti Nandit dijanjikan bakal ketemu si Luna Torashyngu! Asik banget! :"D
Oya, kata Nandit Luna Torashyngu emang beneran cowok lho. Diz udah denger-denger sih. Tapi diz rada gak percaya. Ternyata bener. Coba deh cek di Facebook Luna Torashyngu. Di situ ada keterangan dia married ama cewek, profpic-nya foto anaknya tuh. Kata Nandit namanya Luna. :"D
Eh? Kalo diz sendiri?
Hehehe *ehem*, well, diz kan udah post di sini kalau diz pengen, ngebet banget buat jadi penyiar televisi. Jadinya diz ditempatin di TATV, salah satu TV lokal Solo. Di sini diz ditempatin sama 2 temen diz. Pertama si Ganang yang mau jadi Broadcaster, juga sama si Dipna yang mau jadi Wartawan TV. Tapi katanya sih si Dipna jadi tertarik sama artistik panggung tuhhh. *colek dipna*
Diz belajar banyaaaakkk banget. Mulai dari kerjaan presenter selain siaran, dan juga cara-cara jadi presenter yang baik. Makasih banget deh diz sama mbak2 dan mas2 di sana. Teruatama mbak2 dan mas2 presenternya yang cakeup-cakeuuuppp!! u,u hehehe
Sekian dulu, doain ya biar diz bisa jadi penyiar berita TV! :"D
V,
dia...Z
Source: http://dizftrq.blogspot.com/
Anyway, Orientasi Panggilan Profesi yang biasa disingkat OPP ini gunanya supaya kami anak-anak Van Lith bisa mengerti bagaimana beradaptasi dengan lingkungan kerja tempat kami bakalan kerja. Misalnya temennya diz nih namanya Nandit, kan dia mau jadi novelis, nah, dia ditempatin sama sekolah di Bandung, buat ketemu sama seorang novelis dan ikut si novelis itu ke setiap kegiatan. Asik bener itu si Nandit. Ternyata novelis yang dia tumpangi itu temennya si Luna Torashyngu! Dan... nanti Nandit dijanjikan bakal ketemu si Luna Torashyngu! Asik banget! :"D
Oya, kata Nandit Luna Torashyngu emang beneran cowok lho. Diz udah denger-denger sih. Tapi diz rada gak percaya. Ternyata bener. Coba deh cek di Facebook Luna Torashyngu. Di situ ada keterangan dia married ama cewek, profpic-nya foto anaknya tuh. Kata Nandit namanya Luna. :"D
Eh? Kalo diz sendiri?
Hehehe *ehem*, well, diz kan udah post di sini kalau diz pengen, ngebet banget buat jadi penyiar televisi. Jadinya diz ditempatin di TATV, salah satu TV lokal Solo. Di sini diz ditempatin sama 2 temen diz. Pertama si Ganang yang mau jadi Broadcaster, juga sama si Dipna yang mau jadi Wartawan TV. Tapi katanya sih si Dipna jadi tertarik sama artistik panggung tuhhh. *colek dipna*
Diz belajar banyaaaakkk banget. Mulai dari kerjaan presenter selain siaran, dan juga cara-cara jadi presenter yang baik. Makasih banget deh diz sama mbak2 dan mas2 di sana. Teruatama mbak2 dan mas2 presenternya yang cakeup-cakeuuuppp!! u,u hehehe
Sekian dulu, doain ya biar diz bisa jadi penyiar berita TV! :"D
V,
dia...Z
Source: http://dizftrq.blogspot.com/
Mulailah dengan Mimpi (Studi Banding Vlodz dengan Swaragama FM)
Pada hari Kamis tanggal 10 Maret 2011 yang lalu, sepulang sekolah anak-anak anggota crew Vlodz segera naik bus carteran menuju Yogyakarta. Memang pada hari itu Van Lith mengadakan acara studi banding Jurnalistik Van Lith (JVL) dan Vlodz ke Kompas Jawa Tengah untuk JVL dan Swaragama FM untuk Vlodz. Tujuan acara ini supaya anak-anak yang tergabung dalam JVL dan Vlodz dapat mengetahui bagaimana mengelola majalah dan radio secara profesional.
Kebetulan saya sebagai penyiar (sebutan kerennya, DJ) Vlodz ikut studi banding ke Swaragama FM. Sebetulnya saya juga diberi kesempatan untuk ke Kompas Jawa Tengah, karena saya juga adalah seorang reporter Nimzo yang tergabung dalam JVL. Namun, saya lebih tertarik dengan dunia radio dibandingkan dengan dunia media cetak, maka saya ikut dengan crew Vlodz ke Swaragama FM.
Karena ada beberapa crew Vlodz yang merangkap JVL seperti saya, maka tidak semua anggota crew Vlodz ikut ke Swaragama, seperti Vania, Judith dan Norma, yang lebih tertarik untuk ke kantor Kompas Jawa Tengah. Saya tidak menyesali keputusan saya ini, karena ternyata kunjungan ke Swaragama FM ini menyenangkan sekali.
Sesampai di kantor Swaragama FM, kami dipersilahkan menempati suatu ruang pertemuan. Di sana kami diberi minum dan dibagikan majalah My Magz, gratis. Kemudian kami mengetahui bahwa My Magz merupakan majalah yang masih merupakan proyek sampingan dari Swaragama FM.
Selanjutnya kami tidak diberikan presentasi macam-macam. Kami pertama-tama dikenalkan oleh para narasumber. Narasumber kami yang pertama adalah seorang Manager Production Director Swaragama FM, kami memanggilnya Mas Boma. Ada juga Mbak Ayu, salah satu DJ Swaragam FM, lalu Mas Deka yang ternyata Editor in Chief majalah My Magz yang saat itu sedang kami pegang.
“Daripada kami menguliahi kalian bagaimana Swaragama, lebih baik langsung saja kita tanya jawab. Tanya apa aja boleh, kalau bisa kami pasti langsung jawab,” kata Mas Boma waktu itu. Maka kami langsung saja mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar Swaragama, dan pengelolaan radio.
Dari hasil tanya jawab itu kami mendapatkan wawasan bahwa suatu siaran yang baik harus direncanakan dan dilaksanakan dengan baik. Setiap selesai siaran, penting juga untuk evaluasi, agar ke depannya bisa menjadi lebih baik lagi. Perlu juga mempromosikan suatu acara dan mempersiapkan teknis acara itu dengan maksimal, supaya hasilnya maksimal pula. Untuk kebutuhan promosi itulah, My Magz dibuat oleh Swaragama, yang ternyata juga sering memuat profil penyiar dan ulasan program-program di Swaragama FM.
Lalu Medi, salah satu Music director Vlodz menanyakan lagu-lagu apa yang sekarang digandrungi orang banyak. Ternyata, lagu-lagu yang sering di-request oleh pendengar Swaragama FM 70% merupakan lagu-lagu Indonesia. Meskipun para narasumber kami berpendapat bahwa musik Indonesia masih butuh banyak perkembangan dan perbaikan, namun kenyataannya masyarakat lebih menyukai lagu-lagu Indonesia.
“Kalau selera pendengar kami memang seperti itu. Nah, permasalahannya apa pendengar kami sama seperti pendengar kalian? Tentu anak Van Lith selera musiknya mungkin beda, dong. Yang tahu ya kalian sendiri anak Van Lith. Maka kalian sebagai radio harus menjalin komunikasi yang baik dengan pendengar kalian. Acara request itu ya gunanya supaya kami tahu selera musik pendengar kami dan kami dapat membuat chart,” cerita Mbak Ayu sambil memberi saran. Narasumber kami juga memberi saran untuk menyesuaikan lagu dengan waktu siaran. Misalnya kalau pagi, putarlah lagu pembangkit semangat, atau yang slow untuk menambah kenyamanan suasana pagi.
“Kalau siang juga dianjurkan lagunya yang slow untuk menemani orang-orang yang sudah mulai kelelahan bekerja atau bersekolah dan kelaparan. Kalau kita ngasih lagu-lagu rock, bisa-bisa emosi mereka, channel kita diganti deh,” kata Mas Boma.
Saya juga sempat bertanya kepada Mbak Ayu, penyiar senior Swaragama. Saya waktu itu menanyakan bagaimana menjadi penyiar yang menarik dan disukai.
Mbak Ayu mengatakan bahwa menjadi penyiar itu sebaiknya santai, supaya pendengar tidak terbawa emosi oleh suara si Penyiar. Suara penyiar juga diusahakan untuk enak didengar. Penyiar juga membawakan acara harus sesuai dengan bahan siaran. Jangan pertamanya mebicarakan tempat makan, lalu melenceng menjadi membicarakan politik. Itu tidak baik dan pendengar akan bingung dibuatnya. Penyiar yang menarik itu juga biasanya penyiar-penyiar yang jago melucu, sehingga membuat suasana menjadi segar.
“Kalau kamu nyantai membawakan acara kamu, maka nanti kamu akan terbawa sendiri sampai bisa membawakan acara kamu dengan asyik dan nyambung sama para pendengar. Mungkin ada beberapa orang yang gak suka sama siaran kamu, tapi selama masih ada 2/3 dari para pendengar yang suka sama siaranmu, minimal bilang kalau siaran kamu bagus, itu udah oke kok. Santai saja, karena memang tidak semua orang, tidak semua konsumen bisa dipuaskan,” kata Mas Deka yang ternyata dulu juga salah satu DJ di Swaragama FM memberi saran dan nasihat.
Lucky sang Producer menanyakan sebetulnya apa saja yang bisa dijadikan bahan siaran. Para narasumber memberitahu kami kalau para pendengar senang apabila bisa dilibatkan dalam siaran. Maka kami dianjurkan membuat program-program yang bisa berinteraksi dengan para pendengar. Misalnya games, wawancara, request dan sebagainya.
Demikianlah kira-kira hasil tanya jawab kami dengan Swaragama FM. Interaktif dan mengasyikan, sehingga cukup lama juga kami bertanya jawab, sekitar satu jam. Setelah itu kami dibawa tur keliling Swaragama. Kami melihat sendiri proses pembuatan iklan radio, dan juga melihat acara Sunset Drive yang hari itu sedang berlangsung. Dalam acara itu, Rino dan Medi sempat berbicara on-air, disiarkan langsung oleh Swaragama. Ternyata, acara Sunset Drive yang dipandu Fania Zetira dan Teddy Muslich itu diulas dalam majalah My Magz yang saat itu sedang kami pegang. Kami juga sempat berfoto-foto dengan Fania Zetira dan Teddy Muslich.
Setelah berkeliling-keliling, kami kembali ke ruang pertemuan. Di ruang pertemuan kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak Swaragama yang telah bermurah hati mengizinkan kami belajar macam-macam dari mereka. Kami memberikan piagam Van Lith sebagai kenang-kenangan. Lalu, ternyata ada kejutan menyenangkan buat Vlodz. Kami diberi oleh Swaragama FM 10 keping CD album musik, beserta bocoran chart musik dalam dan luar negeri yang sungguh berguna buat referensi kami. Mereka memang luar biasa murah hati. Kami jadi ingin membawa Vlodz menjadi seperti Swaragama FM.
“Kalian kalau mau usaha pasti bisa. Swaragama juga awalnya radio kuliah mirip-mirip kalian kok. Swaragama bisa menjadi besar seperti ini juga awalnya sebuah mimpi. Memang sulit perizinannya segala macem buat mewujudkannya, tapi kalau kalian mau dan ada usaha, pasti kalian bisa. Nanti kami bantu dengan doa. Hehehe,” kata Mas Boma ketika Rino mengutarakan impian kami ini.
Setelah ber-sayonara, kami pun akhirnya kembali naik bus, pulang ke Muntilan. Sungguh, meskipun hanya beberapa jam, kami merasa sudah belajar banyak sekali dari Swaragama FM. Saya berharap semoga dengan wawasan kami yang bertambah ini dapat membuat kami semakin baik dalam menjalankan Vlodz. Memang masih sebuah mimpi untuk mewujudkan Vlodz menjadi sebanding dengan Swaragama FM, namun semoga mimpi yang baru dimulai ini dapat diwujudkan di kemudian hari. (Dee)
Apa kata mereka tentang Studi Banding Vlodz ke Swaragama FM?
Seneng banget karena sebetulnya sebagai producer radio, aku jarang dengerin radio, dulunya gak gitu ngerti tentang radio. Tahu-tahu dapet kesempatan kayak gini, dapet pengetahuan banyak tentang radio. Aku jadi berangan-angan buat ngebikin Vlodz jadi kayak mereka (Swaragama-red).
Lucky XIA2, Producer Vlodz
Acaranya lancar dan menyenangkan.
Carina X-5, Creative Team Vlodz
Bikin kita jadi lebih mengerti mau dikemanakan Vlodz ke depannya, orang lain jadi lebih mengerti Vlodz, komunikasi dengan pendengar jadi lebih terjalin.
Ronny Barus X-4, Executive Manager Vlodz
Source: http://dizftrq.blogspot.com/
Kebetulan saya sebagai penyiar (sebutan kerennya, DJ) Vlodz ikut studi banding ke Swaragama FM. Sebetulnya saya juga diberi kesempatan untuk ke Kompas Jawa Tengah, karena saya juga adalah seorang reporter Nimzo yang tergabung dalam JVL. Namun, saya lebih tertarik dengan dunia radio dibandingkan dengan dunia media cetak, maka saya ikut dengan crew Vlodz ke Swaragama FM.
Karena ada beberapa crew Vlodz yang merangkap JVL seperti saya, maka tidak semua anggota crew Vlodz ikut ke Swaragama, seperti Vania, Judith dan Norma, yang lebih tertarik untuk ke kantor Kompas Jawa Tengah. Saya tidak menyesali keputusan saya ini, karena ternyata kunjungan ke Swaragama FM ini menyenangkan sekali.
Sesampai di kantor Swaragama FM, kami dipersilahkan menempati suatu ruang pertemuan. Di sana kami diberi minum dan dibagikan majalah My Magz, gratis. Kemudian kami mengetahui bahwa My Magz merupakan majalah yang masih merupakan proyek sampingan dari Swaragama FM.
Selanjutnya kami tidak diberikan presentasi macam-macam. Kami pertama-tama dikenalkan oleh para narasumber. Narasumber kami yang pertama adalah seorang Manager Production Director Swaragama FM, kami memanggilnya Mas Boma. Ada juga Mbak Ayu, salah satu DJ Swaragam FM, lalu Mas Deka yang ternyata Editor in Chief majalah My Magz yang saat itu sedang kami pegang.
“Daripada kami menguliahi kalian bagaimana Swaragama, lebih baik langsung saja kita tanya jawab. Tanya apa aja boleh, kalau bisa kami pasti langsung jawab,” kata Mas Boma waktu itu. Maka kami langsung saja mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar Swaragama, dan pengelolaan radio.
Dari hasil tanya jawab itu kami mendapatkan wawasan bahwa suatu siaran yang baik harus direncanakan dan dilaksanakan dengan baik. Setiap selesai siaran, penting juga untuk evaluasi, agar ke depannya bisa menjadi lebih baik lagi. Perlu juga mempromosikan suatu acara dan mempersiapkan teknis acara itu dengan maksimal, supaya hasilnya maksimal pula. Untuk kebutuhan promosi itulah, My Magz dibuat oleh Swaragama, yang ternyata juga sering memuat profil penyiar dan ulasan program-program di Swaragama FM.
Lalu Medi, salah satu Music director Vlodz menanyakan lagu-lagu apa yang sekarang digandrungi orang banyak. Ternyata, lagu-lagu yang sering di-request oleh pendengar Swaragama FM 70% merupakan lagu-lagu Indonesia. Meskipun para narasumber kami berpendapat bahwa musik Indonesia masih butuh banyak perkembangan dan perbaikan, namun kenyataannya masyarakat lebih menyukai lagu-lagu Indonesia.
“Kalau selera pendengar kami memang seperti itu. Nah, permasalahannya apa pendengar kami sama seperti pendengar kalian? Tentu anak Van Lith selera musiknya mungkin beda, dong. Yang tahu ya kalian sendiri anak Van Lith. Maka kalian sebagai radio harus menjalin komunikasi yang baik dengan pendengar kalian. Acara request itu ya gunanya supaya kami tahu selera musik pendengar kami dan kami dapat membuat chart,” cerita Mbak Ayu sambil memberi saran. Narasumber kami juga memberi saran untuk menyesuaikan lagu dengan waktu siaran. Misalnya kalau pagi, putarlah lagu pembangkit semangat, atau yang slow untuk menambah kenyamanan suasana pagi.
“Kalau siang juga dianjurkan lagunya yang slow untuk menemani orang-orang yang sudah mulai kelelahan bekerja atau bersekolah dan kelaparan. Kalau kita ngasih lagu-lagu rock, bisa-bisa emosi mereka, channel kita diganti deh,” kata Mas Boma.
Saya juga sempat bertanya kepada Mbak Ayu, penyiar senior Swaragama. Saya waktu itu menanyakan bagaimana menjadi penyiar yang menarik dan disukai.
Mbak Ayu mengatakan bahwa menjadi penyiar itu sebaiknya santai, supaya pendengar tidak terbawa emosi oleh suara si Penyiar. Suara penyiar juga diusahakan untuk enak didengar. Penyiar juga membawakan acara harus sesuai dengan bahan siaran. Jangan pertamanya mebicarakan tempat makan, lalu melenceng menjadi membicarakan politik. Itu tidak baik dan pendengar akan bingung dibuatnya. Penyiar yang menarik itu juga biasanya penyiar-penyiar yang jago melucu, sehingga membuat suasana menjadi segar.
“Kalau kamu nyantai membawakan acara kamu, maka nanti kamu akan terbawa sendiri sampai bisa membawakan acara kamu dengan asyik dan nyambung sama para pendengar. Mungkin ada beberapa orang yang gak suka sama siaran kamu, tapi selama masih ada 2/3 dari para pendengar yang suka sama siaranmu, minimal bilang kalau siaran kamu bagus, itu udah oke kok. Santai saja, karena memang tidak semua orang, tidak semua konsumen bisa dipuaskan,” kata Mas Deka yang ternyata dulu juga salah satu DJ di Swaragama FM memberi saran dan nasihat.
Lucky sang Producer menanyakan sebetulnya apa saja yang bisa dijadikan bahan siaran. Para narasumber memberitahu kami kalau para pendengar senang apabila bisa dilibatkan dalam siaran. Maka kami dianjurkan membuat program-program yang bisa berinteraksi dengan para pendengar. Misalnya games, wawancara, request dan sebagainya.
Demikianlah kira-kira hasil tanya jawab kami dengan Swaragama FM. Interaktif dan mengasyikan, sehingga cukup lama juga kami bertanya jawab, sekitar satu jam. Setelah itu kami dibawa tur keliling Swaragama. Kami melihat sendiri proses pembuatan iklan radio, dan juga melihat acara Sunset Drive yang hari itu sedang berlangsung. Dalam acara itu, Rino dan Medi sempat berbicara on-air, disiarkan langsung oleh Swaragama. Ternyata, acara Sunset Drive yang dipandu Fania Zetira dan Teddy Muslich itu diulas dalam majalah My Magz yang saat itu sedang kami pegang. Kami juga sempat berfoto-foto dengan Fania Zetira dan Teddy Muslich.
Setelah berkeliling-keliling, kami kembali ke ruang pertemuan. Di ruang pertemuan kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak Swaragama yang telah bermurah hati mengizinkan kami belajar macam-macam dari mereka. Kami memberikan piagam Van Lith sebagai kenang-kenangan. Lalu, ternyata ada kejutan menyenangkan buat Vlodz. Kami diberi oleh Swaragama FM 10 keping CD album musik, beserta bocoran chart musik dalam dan luar negeri yang sungguh berguna buat referensi kami. Mereka memang luar biasa murah hati. Kami jadi ingin membawa Vlodz menjadi seperti Swaragama FM.
“Kalian kalau mau usaha pasti bisa. Swaragama juga awalnya radio kuliah mirip-mirip kalian kok. Swaragama bisa menjadi besar seperti ini juga awalnya sebuah mimpi. Memang sulit perizinannya segala macem buat mewujudkannya, tapi kalau kalian mau dan ada usaha, pasti kalian bisa. Nanti kami bantu dengan doa. Hehehe,” kata Mas Boma ketika Rino mengutarakan impian kami ini.
Setelah ber-sayonara, kami pun akhirnya kembali naik bus, pulang ke Muntilan. Sungguh, meskipun hanya beberapa jam, kami merasa sudah belajar banyak sekali dari Swaragama FM. Saya berharap semoga dengan wawasan kami yang bertambah ini dapat membuat kami semakin baik dalam menjalankan Vlodz. Memang masih sebuah mimpi untuk mewujudkan Vlodz menjadi sebanding dengan Swaragama FM, namun semoga mimpi yang baru dimulai ini dapat diwujudkan di kemudian hari. (Dee)
Apa kata mereka tentang Studi Banding Vlodz ke Swaragama FM?
Seneng banget karena sebetulnya sebagai producer radio, aku jarang dengerin radio, dulunya gak gitu ngerti tentang radio. Tahu-tahu dapet kesempatan kayak gini, dapet pengetahuan banyak tentang radio. Aku jadi berangan-angan buat ngebikin Vlodz jadi kayak mereka (Swaragama-red).
Lucky XIA2, Producer Vlodz
Acaranya lancar dan menyenangkan.
Carina X-5, Creative Team Vlodz
Bikin kita jadi lebih mengerti mau dikemanakan Vlodz ke depannya, orang lain jadi lebih mengerti Vlodz, komunikasi dengan pendengar jadi lebih terjalin.
Ronny Barus X-4, Executive Manager Vlodz
Source: http://dizftrq.blogspot.com/
Retret Kesadaran dan Keterlibatan Sosial
Ini adalah salah satu kegiatan tahunan di Van Lith Muntilan Senior High School and Dormitory. Kegiatan yang disingkat RKKS ini membuat siswa-siswi Van Lith terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan yang dianggap remeh masyarakat. Misalnya pelayan, pemulung, buruh, kuli, dsb. Kami juga tinggal di rumah para pelayan/pemulung/ buruh/ kuli itu, jadi langsung merasakan bagaimana hidup sebagai mereka.
Err, biar jelas, RKKS bisa dibilang nama lain dari Live-In. ^^
Lanjut. Jadi, waktu itu diz diberitahu kalo diz ditempatkan di SOLO. Ya oloh, sumpah, saya gak punya sodara/siapa2 di solo, mampir juga gak pernah, cuma sekedar lewat juga enggak! Langsung deg2an ngebayangin nasib saya di sana. Tapi ya diz nyantai aja lah. Kalo dibawa pikiran ntar pusing sendiri.
Kami naik bus rame2 ke Solo. Sampai di Solo hari Minggu jam 11-an siang. Kami turun di terminal Tirtonadi, lalu dijemput mas2 PAVALI buat ke Wisma Mahasiswa Solo. (FYI: PAVALI singkatan dari Paguyuban Van Lith, isinya alumni2 Van Lith. Gak cuma sekedar buat kumpul kangen, tapi juga bergerak dalam bidang sosial. Misalnya nih usaha recovery daerah2 yang kena bencana merapi kemaren. Yang bikin posko merapi di sekolah dulu juga PAVALI, lho. PAVALI juga bantuin sekolah buat bikin acara kayak RKKS ini. Btw, saya udah gak sabar jadi PAVALI! Ayo dong Tuhan, cepetan lulus.... >,<)
Oya, kami juga ketemu sama Pak Baluk ama Sr. Ariati, Pendamping di Solo. Tiap kota emang ada satu Pendamping yang ngawasin. Kota2 tempat RKKS itu ada Magelang, Yogya, Semarang dan Solo. (FYI: guru2 di Van Lith disebut "Pendamping". Jadi kami belajar "didampingi" bukan "digurui". ;"p)
Terus di Wisma Mahasiswa kami istirahat, abis itu briefing. Ada 31 anak Van Lith yang live-in di Solo. Cewek2nya klo saya gak salah ada saya, Tala, Vero, Imel, Sari, Tika, Ridha, Wenita, Asih, Lisa, dan Bela. Cowok2nya saya lupa. Maklum, populasi cowok di Van Lith emang berlebih. Saya ingetnya cuma beberapa yang "bernasib sial" aja...
Contohnya Pedro. Waktu istirahat ada mas2 PAVALI nggeletakin kertas pembagian kerjaan gitu aja. Nah, si Pedro ini ngintip. Ternyata dia jadi penjual jamu keliling. Dia udah seneng tuh dapet kerjaan yang radha mending. Tapi pas briefing, ternyata kerjaannya diganti jadi Pemulung.
Jadi kawan, gak usahlah ngintip hal2 yang bukan hak anda.
Terus ada juga temenku si Chandra. Dia jadi penjaga malam di GOR nemenin satpan yang udah ada di sana. Nah, dia tuh udah dipesenin buat hati2, jangan ampe ngagetin bapaknya yang kayaknya punya penyakit jantung.
Bayangin waktu Chandra jaga malem2, terus "ada yang lewat", terus dia kaget, terus ngangetin bapaknya. Bisa berabe.
Untungnya, itu gak terjadi. ;"p
Dan saya?
Saya jadi pelayan warung makan. Ibu di tempat saya live-in baik banget dah sumpah. Saya jadi terharu.
Tapi ya.. ternyata capek juga bolak-balik beresin meja, nyuci piring segunung... @.@
Moga2 kerjaan kayak gini, suatu saat lebih dihargai kayak di negara2 lain yang ngehargain banget kerja tangan.
Oya temen2, klo makan di restoran, warung makan, maupun di rumah dihabisin ya makanannya. Saya sakit ati sendiri ngebuang makanan2 sisa. Sayang! Mari kita bersyukur masih bisa makan dengan menghargai dan menghabiskan makanan. Masih banyak sesama kita di luar sana yang mati kelaparan, yang musti ngais2 sampah cuma buat makan.
Keep smiling, keep praying, and thank the Lord!
V,
dia...Z
Source: http://dizftrq.blogspot.com/
Pasca Merapi
Nih, diz menulis ini di kota Muntilan tercinta yang sempat diz tinggalkan beberapa minggu yang lalu selama beberapa minggu karena adanya bencana letusan Gunung Merapi. Jadi, tanggal 4 November yang lalu Merapi kan njebluk. Sekolah diz, Van Lith Muntilan Senior High School Dormitory, menyuruh semua murid-muridnya ninggalin sekolah, tapi harus dijemput pake mobil. Emang sih, gila aja kalo waktu itu pake motor, debu mabul-mabul, jarak pandang paling cuma berapa meter.
Ya udah, diz bareng beberapa temen numpang mobil om-nya tmen diz, namanya Annie. Annie nganter diz sama temen diz yang namanya Icha ke rumah eyangnya Icha di Jogja. Nginep diz di rumahnya Icha semalem. Terus besok paginya ada berita jarak aman jadi 25 km, rumahnya Icha 27 km... Yahh... say good bye lah saya ke keluarganya Icha yang ke Wonosari, diz ke rumah mbahnya diz di Wates.
Untungnya ortu diz lagi di Purwokerto ada acara. Ya udah, mereka langsung ke Wates jemput diz buat ke Bekasi. Nah, si Icha ikutan pulang, jadi Icha ke rumah mbahnya diz, terus kami bareng2 ke Bekasi (Icha ke Jakarta).
Sementara itu, ada beberapa temen2 diz yang nggak pulang kemana-mana. Temen2 diz yang cowok, berani dan gagah perkasa bersama beberapa alumni yang di Jogja membangun posko di Van Lith. Wah, pokoknya cerita mereka seru banget deh. Dari menghadapi pengungsi yang banyak maunya, kekurangan logistik, kelebihan logistik, dan yang paling bikin diz ikutan ngeri waktu jarak aman jadi 25 km. Padahal sekolah diz 18 km. Wah, diz diceritain mereka rada pusing juga mikirin mengungsikan pengungsinya gimana.
Yah, pokoknya semuanya udah berakhir. Muntilan sudah mulai menghijau lagi setelah beberapa waktu pemandangannya abu-abu melulu, bikin sakit mata. Thanks God...
Oya, selama 2 minggu diz di Bekasi, diz gak cuma diem di rumah lhoo... Sekolahnya diz udah koordinasi sama Depdiknas supaya murid-muridnya bisa sekolah di sekolah mana aja. Kan murid2 Van Lith dari macem2 daerah, ya udah kami sekolah di tempat pengungsian masing2. Diz ditempatin di SMA Negeri 1 Bekasi. Temen2 di sana ramah2 dan baik2, seru2 pula. Pokoknya diz betah2 aja sekolah di sana. Tapi kewajiban dan kecintaan diz sama Van Lith membuat diz balik lagi ke muntilan, kota sederhana tercinta ini, meskipun kadang2 diz jenuh sama Van Lith.
Gak ada orang yang bener-bener sayang sama sekolahnya atau bener-bener benci sama sekolahnya. Yang ada orang yang bener-bener sayang sekaligus bener-bener benci sama sekolahnya. :"P
I Hate Van Lith 100%, I Love Van Lith 100%, I "heart" Van Lith 200%. :"D
Terus, di Muntilan kan kena ujan pasir. Wah pokoknya pasir melimpah banget di jalan-jalan di halaman. Tapi kayaknya gak bisa buat dibikin bangunan deh. TT
Untung sekarang udah musim ujan, jadi gak terlalu berdebu lah. Debunya larut dalam air.
Meskipun di sini semua udah mendingan, tapi buat temen2 yang masih mau ngirim bantuan gak usah ragu lho.. Soalnya masih banyak saudara2 kita yang di lereng merapi yang kehilangan harta bendanya. Kalo mau kirim aja ke sini:
Rekening POSKO VL PEDULI MERAPI : BRI a.n Br. Albertus Haryadi rek: 0251-01-013946-505 Mandiri 137-00-0648100-2 Martinus Satriyo Hadiwibowo.
Bantuan kalian gak pernah telat! ^^
Merapi... Seratus tahun lagi ya sampe kayak kemarin lagi...
V,
dia...Z
Source: http://dizftrq.blogspot.com/
Ya udah, diz bareng beberapa temen numpang mobil om-nya tmen diz, namanya Annie. Annie nganter diz sama temen diz yang namanya Icha ke rumah eyangnya Icha di Jogja. Nginep diz di rumahnya Icha semalem. Terus besok paginya ada berita jarak aman jadi 25 km, rumahnya Icha 27 km... Yahh... say good bye lah saya ke keluarganya Icha yang ke Wonosari, diz ke rumah mbahnya diz di Wates.
Untungnya ortu diz lagi di Purwokerto ada acara. Ya udah, mereka langsung ke Wates jemput diz buat ke Bekasi. Nah, si Icha ikutan pulang, jadi Icha ke rumah mbahnya diz, terus kami bareng2 ke Bekasi (Icha ke Jakarta).
Sementara itu, ada beberapa temen2 diz yang nggak pulang kemana-mana. Temen2 diz yang cowok, berani dan gagah perkasa bersama beberapa alumni yang di Jogja membangun posko di Van Lith. Wah, pokoknya cerita mereka seru banget deh. Dari menghadapi pengungsi yang banyak maunya, kekurangan logistik, kelebihan logistik, dan yang paling bikin diz ikutan ngeri waktu jarak aman jadi 25 km. Padahal sekolah diz 18 km. Wah, diz diceritain mereka rada pusing juga mikirin mengungsikan pengungsinya gimana.
Yah, pokoknya semuanya udah berakhir. Muntilan sudah mulai menghijau lagi setelah beberapa waktu pemandangannya abu-abu melulu, bikin sakit mata. Thanks God...
Oya, selama 2 minggu diz di Bekasi, diz gak cuma diem di rumah lhoo... Sekolahnya diz udah koordinasi sama Depdiknas supaya murid-muridnya bisa sekolah di sekolah mana aja. Kan murid2 Van Lith dari macem2 daerah, ya udah kami sekolah di tempat pengungsian masing2. Diz ditempatin di SMA Negeri 1 Bekasi. Temen2 di sana ramah2 dan baik2, seru2 pula. Pokoknya diz betah2 aja sekolah di sana. Tapi kewajiban dan kecintaan diz sama Van Lith membuat diz balik lagi ke muntilan, kota sederhana tercinta ini, meskipun kadang2 diz jenuh sama Van Lith.
Gak ada orang yang bener-bener sayang sama sekolahnya atau bener-bener benci sama sekolahnya. Yang ada orang yang bener-bener sayang sekaligus bener-bener benci sama sekolahnya. :"P
I Hate Van Lith 100%, I Love Van Lith 100%, I "heart" Van Lith 200%. :"D
Terus, di Muntilan kan kena ujan pasir. Wah pokoknya pasir melimpah banget di jalan-jalan di halaman. Tapi kayaknya gak bisa buat dibikin bangunan deh. TT
Untung sekarang udah musim ujan, jadi gak terlalu berdebu lah. Debunya larut dalam air.
Meskipun di sini semua udah mendingan, tapi buat temen2 yang masih mau ngirim bantuan gak usah ragu lho.. Soalnya masih banyak saudara2 kita yang di lereng merapi yang kehilangan harta bendanya. Kalo mau kirim aja ke sini:
Rekening POSKO VL PEDULI MERAPI : BRI a.n Br. Albertus Haryadi rek: 0251-01-013946-505 Mandiri 137-00-0648100-2 Martinus Satriyo Hadiwibowo.
Bantuan kalian gak pernah telat! ^^
Merapi... Seratus tahun lagi ya sampe kayak kemarin lagi...
V,
dia...Z
Source: http://dizftrq.blogspot.com/
Langganan:
Postingan (Atom)








